bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Oktober 31, 2010

Kebutuhan Ibu Selama Kala II Persalinan dan Melakukan Amniotomi dan Episiotomi

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN II
“Memberikan Asuhan pada Ibu Bersalin Kala II : Kebutuhan Ibu Selama Kala II Persalinan
dan
Melakukan Amniotomi dan Episiotomi”

Dosen : Ibu Jenny J.S. Sondakh, M. Clin. Mid.










Oleh Kelompok 11 :
1. Afifa Rahma Hani 0902100001
2. Novitasari Mustika R. 0902100024
Kelas II A


JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN MALANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN MALANG
Tahun 2010
DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
1 Memberikan Asuhan pada Ibu Bersalin Kala II
1.1 Kebutuhan Ibu Selama Kala II Persalinan
1.1.1 Pernapasan 2
1.1.2 Mendorong 3
1.1.3 Orang terdekat 3
1.2 Asuhan Sayang Ibu 5
1.3 Melakukan Amniotomi dan Episiotomi
1.3.1 Amniotomi 8
1.3.2 Episiotomi 11
1.3.3 Menjahit Episiotomi 16
Daftar Pustaka 19














TINJAUAN TEORI

1 Memberikan Asuhan pada Ibu Bersalin Kala II
Kala II persalinan dimulai dengan dilatasi serviks dan diakhiri dengan kelahiran bayi. Tahap ini dikenal dengan kala ekspulsi. (Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 2, Helen Varney, 2008: 751)
Kala II adalah mulai dari saat pembukaan mulut rahim secara penuh hingga si kecil lahir. (Panduan Lengkap Kehamilan, Persalinan dan Perawatan Bayi, M.T. Indiarti, 2007: 147)
1.1 Kebutuhan Ibu Selama Kala II Persalinan
Perawatan tubuh dan perawatan penunjang selama kala dua persalinan merupakan kelanjutan asuhan yang dimulai selama kala satu persalinan; dimodifikasi untuk memenuhi perubahan kebutuhan wanita yang berkembang selama persalinan. Keefektifan tindakan memberi kenyamanan bergantung pada bagaimana setiap wanita mengalami dan menerimanya. Terdapat sedikit tindakan tambahan dan pertimbangan yang spesifik untuk kala dua persalinan, yaitu mengenai pernapasan, dorongan, dan orang terdekat wanita.
1.1.1 Pernapasan
Wanita harus menggunakan bentuk pernapasan terkontrol, seperti yang digunakan pada saat fase aktif kala satu persalinan, selama kontraksi jika ia belum merasa ingin mendorong. Jenis pernapasan ini dimulai dengan napas pembersihan, kemudian menjadi napas dada lambat yang kecepatannya meningkat pada saat kontraksi mencapai puncaknya, kemudian melambat pada saat kontraksi mereda, dan diakhiri dengan napas pembersihan lainnya.
Wanita mungkin memerlukan bantuan dalam mengatur pernapasannya dan dalam mengefektifkan penggunaan upaya dorong alaminya.
Wanita perlu dipimpin untuk bernapas pendek dan cepat jika ia merasa ingin mendorong. Bernapas pendek dan cepat dapat berarti melakukan inhalasi dengan cepat diikuti ekshalasi yang kuat dan segera diulangi. Pernapasan pendek dan cepat juga dapat berarti napas tenggorok yang dangkal dan cepat. Kemampuan wanita untuk bernapas pendek dan tidak melakukan dorongan dapat menjadi hal yang penting, dan ia harus diajarkan bagaimana melakukan hal itu ketika memasuki kala dua persalinan jika ia belum diajarkan sebelumnya.
1.1.2 Mendorong
Wanita yang merasa seperti ingin atau perlu untuk mendorong dapat dibantu dengan sejumlah cara untuk membuat upayanya seefektif mungkin. Membantu wanita mendorong akan membuat pasangannya merasa penting, mempunyai peran dan berpartisipasi dalam pengalaman ini.
1.1.3 Orang terdekat
Idealnya, orang yang diinginkan kehadirannya pada saat pelahiran telah didiskusikan dan direncanakan beberapa waktu sebelumnya. Tempat bersalin tanpa pembatasan orang yang akan hadir ketika pelahiran, kecuali yang ditempatkan oleh wanita adalah di rumah. Rumah bersalin umumnya juga memilikisedikit sampai tidak ada pembatasan. Tempat yang paling dibatasi adalah ruang bersalin rumah sakit dengan jumlah orsng terdekat wanita biasanya dibatasi satu atau dua orang saja. Bergantung pada ukuran ruang bersalin atau jika pelahiran bertempat di ruang LDR atau LDRP (Labor/deliver/recovery/postpartum room), lebih banyak orang terdekat wanita mungkin diperbolehkan. Kebijakan mengenai kehadiran orang terdekat pada saat pelahiran sangat bervariasi di setiap rumah sakit. Lebih banyak rumah sakit yang toleran mengizinkan saudara kandung hadir selama persalinan dan pada saat kelahiran. Kebijakan rumah sakit yang membatasi telah menjadi salah satu alasan bagi pasangan untuk mencari alternatif tempat melahirkan di luar rumah sakit.
Jika anak-anak akan hadir ketika pelahiran, tanpa memperhatikan tempat bersalin, diperlukan orang dewasa yang menjadi penangjawab utama atas mereka dan mengurus mereka. Anak-anak harus dapat meninggalkan tempat bersalin jika mereka menginginkannya, atau jika diperlukan. Anak-anak harus dipersiapkan untuk melihat dan mendengar suasana melahirkan dan dapat terlibat dalam persiapan untuk pelahiran dan persiapan untuk bayi.
Jika proses melahirkan akan dilakukan dalam ruang pelahiran, bidan harus menyambut pasangan dan membuat ia merasa diinginkan dan dibutuhkan, seperti yang dilakukan dalam ruang bersalin. Tempatkan pasangan di samping wanita, sediakan bangku untuk duduk, dan tekankan pentingnya keberadaannya di tempat tersebut. Jika orang terdekat wanita perlu berganti pakaian untuk masuk ke dalam ruang pelahiran, berikan waktu sebanyak yang diperlukan sehingga ia tidak melewatkan pelahiran. Sertakan orang terdekat wanita ketika bidan menjelaskan tentang aktivitas yang sedang terjadi.
Aktivitas orang terdekat wanita selama tahap kedua persalinan sekali lagi bergantung pada kemampuan dan harapan orang tersebut serta beberapa banyak partisipasi yang disetujui wanita, orang tersebut, dan penolong. Sebagai contoh, pasangan dapat terus melakukan aktivitas yang mereka lakukan selama kala satu persalinan. Mereka juga dapat membantu wanita dalam teknik mendorong, menyemangatinya, membasuh wajahnya, berbagi hal dan juga saat-saat pelahiran yang dinantikan bersamanya, serta memotong tali pusat. (Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 2, Helen Varney, 2008: 766-767)
Lesser dan Keane dalam buku Midwifery oleh Varney, 2002 menyatakan bahwa kebutuhan ibu selama persalinan antara lain :
Perawatan tubuh, pendampingan oleh keluarga, bebas dari rasa nyeri persalinan, penghormatan akan budaya, dan informasi tentang diri dan janinnya. asuhan tubuh artinya metode sentuhan oleh pendamping persalinan, misalnya : mengusap mata dengan washlap lembab, memperhatikan kebersihan tubuh, memperhatikan kebersihan pada vulva agar ibu nyaman dan pemberian nutrisi.
1. Kehadiran pendamping secara terus menerus . Hal ini memberikan hasil:
a. Persalinan yang diakhiri oleh vacuum ekstraksi dan forceps semakin sedikit
b. Pembedahan cesar semakin menurun
c. Skore apgar <7 semakin menurun
d. Waktu yang diperlukan dalam persalinan semakin pendek
e. Kepuasan ibu semakin meningkat dalam pengalaman melahirkan
2. Mengurangi rasa sakit. Cara yang digunakan untuk manajemen nyeri persalinan oleh pendamping persalinan secara terus-menerus bersifat sederhana, efektif, tidak beresiko/ resikonya rendah, bersifat sayang ibu serta kemajuan proses persalinan
3. Varney 2004 menjelaskan tentang cara manajemen nyeri persalinan dengan mendukung persalinan, dan asuhan tubuh
4. Penny Simpkin, 2005 menjelaskan bahwa cara untuk mengurangi rasa sakit yaitu dengan mengurangi rasa sakit langsung pada sumbernya, memberikan rangsangan alternative yang kuat serta mengurangi reaksi mental negative, emosional dan fisik ibu terhadap rasa sakit. Untuk itu perlu dilakukan :
a. Kehadiran yang terus menerus, sentuhan, penghiburan, dan dorongan dari orang yang mendampinginya
b. Pergantian posisi sesuai keinginan ibu dan pergerakan
c. Masase pada pinggang
d. Penekanan pada lutut dalam posisi ibu duduk oleh pendamping persalinan
e. Kompres bergantian panas atau dingin
f. Pemberian keleluasaan kepada ibu selama persalinan untuk mengeluarkan suara/ berteriak/ menangis
g. Visualisasi atau menganjurkan ibu untuk membayangkan proses persalinan akan berjalan dengan mudah dan pemusatan perhatian.
h. Pemutaran music. Music yang tenang membuat ibu rileks dalam menjalani persalinan.
(PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:106)
1.2 Asuhan Sayang Ibu
Dalam pemenuhan kebutuhan ibu dalam persalinan kala dua, dilaksanakan asuhan sayang ibu. Asuhan sayang ibu meliputi:
1.2.1 Anjurkan ibu agar ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses persalinan dan kelahiran bayinya. Dukungan dari suami, orang tua, dan kerabat yang disukai ibu sangat diperlukan dalam menjalani proses persalinan.
Alasan: Hasil persalinan yang baik ternyata erat hubungannya dengan dukungan dari keluarga yang mendampingi dalam menjalani proses persalinan. (Enkin, et al, 2000)
1.2.2 Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan, diantaranya membantu ibu untuk berganti posisi, melakukan rangsangan taktil, memberikan makanan dan minuman, teman bicara, dan memberikan dukungan dan semangat selama persalinan dan melahirkan bayinya.
1.2.3 Penolong persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan anggota keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan proses persalinan atau kelahiran bayi kepada mereka.
1.2.4 Tenteramkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani kala dua persalinan. Lakukan bimbingan dan tawarkan bantuan jika diperlukan.
1.2.5 Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran. Ada beberapa posisi yang dapat dipilih, diantaranya:
• Posisi duduk atau setengah duduk










• Posisi merangkak atau miring ke kiri














• Posisi jongkok atau berdiri










1.2.6 Setelah pembukaan lengkap, anjurkan ibu hanya meneran apabila ada dorongan kuat dan spontan untuk meneran. Jangan menganjurkan untuk meneran berkepanjangan dan menahan napas. Anjurkan ibu beristirahat di antara kontraksi.
Alasan: Meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernapas sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu dan meningkatkan risiko asfiksia pada bayi sebagai akibat turunnya pasokan oksigen melalui plasenta (Enkin, et al, 2000)
Anjuran cara mengejan yang benar :
- Pilih posisi tubuh yang paling nyaman
- Waktu yang tepat untuk mengejan ialah ketika kala II. Ciri-ciri datangnya kala II: ada dorongan mengejan, tekanan pada anus, perineum menonjol, vulva membuka, meningkatnya pengeluaran darah dan lendir, serta kepala bayi telah ada di dasar panggul.
- Kepala ibu saat mengejan mesti menunduk sampai dagu menyentuh dada bagian atas, selanjutnya mata diarahkan ke pusar
- Mengejanlah seperti hendak buang air besar. Tarik nafas dalam selama kontraksi terjadi, lalu mengejanlah sekuat mungkin.
- Lakukan dengan tenang. Dorongan yang panik hanya akan menghamburkan tenaga karena hanya sedikit kemajuan yang dicapai
- Lebih baik mengejanlah pendek-pendek kurang lebih 10 detik. Apabila kontraksinya masih ada, ulangi lagi mengejannya. Tujuannya supaya bayi tidak kehabisan oksigen
- Apabila kontraksi berhenti, istirahat saja dan atur nafas. Cobalah minum air manis atau madu untuk menambah tenaga. Saat kontraksi dating lagi, mulailah tarik nafas dan mengejan lagi. (Panduan Lengkap Kehamilan, Persalinan dan Perawatan Bayi, M.T. Indiarti, 2007: 147)
1.2.7 Anjurkan ibu untuk minum selama kala dua persalinan.
Alasan: Ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Cukupnya asupan cairan dapat mencegah ibu mengalami hal tersebut. (Enkin, et al, 2000)
1.2.8 Adakalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala dua persalinan. Berikan rasa aman dan semangat serta tenteramkan hatinya selama proses persalinan berlangsung. Dukungan dan perhatian akan mengurangi perasaan tegang, membantu kelancaran proses persalinan dan kelahiran bayi. Beri penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan setiap kali penolong akan melakukannya, jawab setiap pertanyaan yang diajukan ibu, jelaskan apa yang dialami oleh ibu dan bayinya dan hasil pemeriksaan yang dilakukan.
(Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial Persalinan, JNPK-KR, 2007: 77)
1.3 Melakukan Amniotomi dan Episiotomi
1.3.1 Amniotomi
Amniotomi/pemecahan selaput ketuban dilakukan bila selaput ketuban masih utuh, ada dorongan yang besar. Manfaat yang diperkirakan adalah persalinan bertambah cepat, deteksi dini kasus pencemaran mekonium pada cairan amnion, dan kesempatan untuk memasang elektroda ke janin serta memasukkan pressure catheter ke dalam rongga uterus. Jika amniotomi dilakukan, harus diupayakan menggunakan teknik aseptik. Yang penting kepala janin harus tetap berada di serviks dan tidak dikeluarkan dari panggul selama prosedur; karena tindakan seperti itu akan menyebabkan prolaps tali pusat. (Obstetri William Edisi 21, Cuningham, dkk., 2006: 343)
Selama selaput ketuban masih utuh, janin akan terhindar dari infeksi dan asfiksia. Cairan amniotic berfungsi sebagai perisai yang melindungi janin dari tekanan penuh dikarenakan kontraksi. Oleh karena itu perlu dihindarkan amniotomi dini pada kala I. Biasanya, selaput ketuban akan pecah secara spontan.
Keuntungan tindakan amniotomi :
1. Untuk melakukan pengamatan ada tidaknya mekonium
2. Menentukan punctum maksimum DJJ akan lebih jelas
3. Mempermudah perekaman pada saat memantau janin
4. Mempercepat proses persalinan karena mempercepat proses pembukaan serviks
Kerugian tindakan Amniotomi :
1. Dapat menimbulkan trauma pada kepala janin yang mengakibatkan kecacatan pada tulang kepala akibat dari tekanan deferensial meningkat
2. Dapat menambah kompresi tali pusat akibat jumlah cairan amniotic berkurang.
Indikasi amniotomi :
1. Pembukaan lengkap
2. Pada kasus solutio plasenta
(PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:108)
Apabila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka perlu dilakukan tindakan amniotomi. Perhatikan warna air ketuban yang keluar saat dilakukan amniotomi. Jika terjadi pewarnaan mekonium pada air ketuban maka dilakukan persiapan pertolongan bayi setelah lahir karena hal tersebut menunjukkan adanya hipoksia dalam rahim atau selama proses persalinan. (Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusui Dini, 2008: 78)
Penatalaksanaan amniotomi :
1. Membahas prosedur bersama ibu dan keluarganya dan jawab pertanyaan apapun yang mereka ajukan
2. Dengarkan denyut jantung janin (DJJ) dan catat pada partograf.
3. Cuci kedua tangan.
4. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
5. Diantara kontraksi lakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati. Raba dengan hati-hati selaput ketuban untuk memastikan bahwa kepala telah masuk dengan baik (masuk ke dalam panggul) dan bahwa tali pusat dan/atau bagian-bagian tubuh yang kecil dari bayi bias dipalpasi, jangan pecahkan selaput ketuban. Lihat table 2-1 untuk langkah-langkah kegawatdaruratan dan rujuk segera. Catatan : pemeriksaan dalam yang dilakukan di antara kontraksi seringkali lebih nyaman untuk ibu. Tapi jika selaput ketuban tidak dapat diraba di antara kontraksi, tunggu sampai kekuatan kontraksi berikutnya mendorong cairan ketuban dan membuatnya lebih mudah untuk dipalpasi dan dipecahkan.
6. Dengan menggunakan tangan yang lain, tempatkan klem setengah Kocher atau setengah Kelly disinfeksi tingkat tinggi atau steril dengan lembut ke dalam vagina dan pandu klem dengan jari dari tangan yang digunakan untuk pemeriksaan hingga mencapai selaput ketuban.
7. Pegang ujung klem diantara ujung jari pemeriksaan, gerakkan jari dengan lembut gosokkan klem pada selaput ketuban dan pecahkan. Catatan : seringkali lebih mudah untuk memecahkan selaput ketuban diantara kontraksi ketika selaput ketuban tidak tegang, hal ini juga akan mencegah air ketuban menyemprot pada saat selaput ketuban dipecahkan.
8. Biarkan air ketuban membasahi jari tangan yang digunakan untuk pemeriksaan.
9. Gunakan tangan yang lain untuk mengambil klem dan menempatkannya ke dalam larutan klorin 0,5 % untuk didekontaminasi. Biarkan jari tangan pemerikasaan tetap di dalam vagina untuk mengetahui penurunan kepala janin dan memastikan bahwa tali pusat atau bagian kecil dari bayi tidak teraba. Setelah memastikan penurunan kepala dan tidak ada tali pusat bagian-bagian tubuh bayi yang kecil, keluarkan tangan pemeriksa secara lembut dari dalam vagina.
10. Evaluasi warna cairan ketuban, periksa apakah ada mekonium atau darah (lebih banyak dari bercak bercampur darah yabg normal). Jika mekonium atau darah (lebih banyak dari bercak bercampur darah yang normal). Jika mekonium atau darah terlihat, lihat table 2-1 untuk langkah-langkah gawat darurat.
11. Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, lalu lepaskan sarung tangan dan biarkan terendam di larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
12. Cuci kedua tangan
13. Segera periksa ulang DJJ
14. Catat pada partograf waktu dilakukannya pemecahan selaput ketuban, warna air ketuban dan DJJ.
(Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusui Dini, JNPK-KR, 2008: 145)







Contoh gambar amniotomi
1.3.2 Episiotomi
Pada masa yang lalu, tindakan episiotomi dilakukan secara rutin terutama pada primipara. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah trauma pada kepala janin, mencegah kerusakan pada spinter ani serta lebih mudah untuk menjahitnya. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung manfaat episiotomi (Enkim, Keirse, Renfew dan Nelson, 1995; Wooley, 1995). Pada kenyataannya tindakan episiotomi dapat menyebabkan peningkatan jumlah jumlah kehilangan darah ibu, bertambah dalam luka perineum bagian posterior, meningkatkan kerusakan pada spinter ani dan peningkatan rasa nyeri pada hari-hari pertama post partum. (PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:108)
Episiotomi adalah suatu sayatan di dinding belakang vagina agar bukaan lebih lebar sehingga bayi dapat keluar dengan lebih mudah. Dapat dimengerti jika kaum wanita khawatir kalau-kalau sayatan atau robekan akan memengaruhi vagina dan perineum (kulit antara vagina dan anus) sehingga kelak hubungan seksual akan menyakitkan, atau area tersebut menjadi jelek, atau tidak memungkinkan penggunaan tampon. Wanita yang pernah mengalami pelecehan seksualsering takut jika mendengar penyayatan karena ini mengingatkan pada kerusakan yang pernah mereka alami. (Kehamilan dan Melahirkan, Mary Nolan, 2003: 127)

Dianjurkan untuk melakukan episiotomi pada primigravida atau pada wanita dengan perineum yang kaku. Episiotomi ini dilakukan bila perineum telah menipis dan kepala janin tidak masuk kembali ke dalam vagina. Ketika kepala janin akan mengadakan defleksi dengan suboksiput di bawah simfisis sebagai hipomoklion, sebaiknya tangan kiri menahan bagian belakang kepala dengan maksud agar gerakan defleksi tidak terlalu cepat. Dengan demikian, ruptura perinei dapat dihindarkan. Untuk mengawasi perineum ini posisi miring (Sims position) lebih menguntungkan dibandingkan dengan posisi biasa. Akan tetapi, bila perineum jelas telah tipis dan menunjukkan akan timbul ruptura perinei, maka sebaiknya dilakukan episiotomi. Dikenal:
a. Episotomi mediana, dikerjakan pada garis tengah









b. Episiotomi mediolateral, dikerjakan pada garis tengah yang dekat muskulus sfingter ani, dan diperluas ke sisi









c. Episiotomi lateral, yang sering terjadi perdarahan
Keuntungan episiotomi mediana ialah tidak menimbulkan perdarahan banyak dan penjahitan kembali lebih mudah, sehingga sembuh per primam dan hampir tidak berbekas. Bahayanya ialah dapat menimbulkan ruptura perinei totalis. Dalam hal ini muskulus sfingter ani eksternus dan rektum ikut robek pula. Perawatan ruptura perinei totalis harus dikerjakan serapi-rapinya, agar jangan sampai gagal dan timbul inkontinensia alvi.
(Ilmu Kebidanan, Hanifa Wiknjosastro, 2007: 195)
Indikasi Episiotomi :
1. Gawat janin. Untuk menolong keselamatan janin, maka persalinan harus segera diakhiri.
2. Persalinan pervaginam dengan penyulit, misalnya presbo, distoksia bahu, akan dilakukan ekstraksi forcep, ekstraksi vacuum
3. Jaringan parut pada perineum ataupun pada vagina
4. Perineum kaku dan pendek
5. Adanya rupture yang membakat pada perineum
6. Premature untuk mengurangi tekanan
(PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:108)
Penatalaksanaan episiotomi :
1. Persiapan :
a. Peralatan : baik steril berisi kasa, gunting episiotomy, betadin, spuit 10 ml dengan jarum ukuran minimal 22 dan panjang 4 cm, lidokain 1% tanpa epineprin. Bila bila lidokain 1% tidak ada dan tersedia likokain 2% maka buatlah likokain tadi menjadi 1% dengan cara melarutkan 1 bagian lidokain 2% ditambah 1 bagian cairan garam fisiologis atau air destilasi steril. Contoh : Larutkan 5 ml lidokain 2% ke dalam 5 ml cairan garam fisiologis atau air destilasi steril.
b. Pertimbangkan secara matang tujuan episiotomi.
(PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:108)
c. Pertimbangkan indikasi-indikasi untuk melakukan episiotomi dan pastikan bahwa episiotomi tersebut penting untuk keselamatan dan kenyamanan ibu dan/atau bayi.
d. Pastikan bahwa semua perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia dan dalam keadaan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
e. Gunakan teknik aseptik setiap saat. Cuci tangan dan pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
f. Jelaskan pada ibu mengapa ia memerlukan episiotomi dan diskusikan prosedurnya dengan ibu. Berikan alasan rasional pada ibu.
2. Prosedur
a. Tunda tindakan episiotomi sampai perineum menipis dan pucat, dan 3-4 cm kepala bayi sudah terlihat pada saat kontraksi.
Alasan: Melakukan episiotomi akan ,nenyebabkan perdarahan; jangan melakukannya terlalu dini.
b. Masukkan dua jari ke dalam vagina di antara kepala bayi dan perineum. Kedua jari agak direnggangkan dan berikan sedikit tekanan lembut ke arah luar pada perineum.
Alasan: Hal ini akan melindungi kepala bayi dari gunting dan meratakan perineum sehingga membuatnya lebih mudah diepisiotomi..
c. Gunakan gunting tajam disinfeksi tingkat tinggi atau steril, tempatkan gunting di tengah tengah fourchette posterior dan gunting mengarah ke sudut yang diinginkan untuk me-lakukan episiotomi mediolateral (jika anda bukan kidal, episiotomi mediolateral yang dilakukan di sisi kiri lebih mudah dijahit). Pastikan untuk melakukan palpasi/ mengidentifikasi sfingter ani eksternal dan mengarahkan gunting cukup jauh kearah samping untuk rnenghindari sfingter.
d. Gunting perineum sekitar 3-4 cm dengan arah mediolateral menggunakan satu atau dua guntingan yang mantap. Hindari “menggunting” jaringan sedikit demi
sedikit karena akan menimbulkan tepi yang tidak rata sehingga akan menyulitkan penjahitan dan waktu penyembuhannya lebih lama.
e. Gunakan gunting untuk memotong sekitar 2-3 cm ke dalam vagina.
f. Jika kepala bayi belum juga lahir, lakukan tekanan pada luka episiotomi dengan di lapisi kain atau kasa disinfeksi tingkat tinggi atau steril di antara kontraksi untuk membantu mengurangi perdarahan.
Alasan: Melakukan tekanan pada luka episiotomi akan menurunkan perdarahan.
g. Kendalikan kelahiran kepala, bahu dan badan bayi untuk mencegah perluasan episio-tomi.
h. Setelah bayi dan plasenta lahir, periksa dengan hati-hati apakah episiotomi, perineum dan vagina mengalami perluasan atau laserasi, lakukan penjahitan jika terjadi perluasan episiotomi atau laserasi tambahan.
(Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial Persalinan, JNPK-KR, 2007: 147)
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi resiko penyayatan atau robekan selama persalinan.
- Jika dalam posisi berdiri dan tidak duduk pada tulang ekor ketika mendorong bayi keluar, panggul akan terbuka lebar dan Anda member sebanyak mungkin ruang bagi bayi untuk menemukan jalan keluar termudah. Semakin mudah bayi keluar, akan semakin kurang tekanan yang diterima oleh vagina dan perineum
- Cobalah dan bayangkan vagina membuka agar bayi bisa lewat dengan mudah, jangan menahan.
- Ketika bidan mengatakan bahwa kepala bayi akan keluar pada kontraksi berikutnya, Anda dapat melakukan posisi merangkak sehingga kepala bayi akan keluar perlahan-lahan dari vagina dan memungkinkan perineum meregang perlahan-lahan di depan wajah bayi. Kelahiran yang timbul seperti ini akan sangat baik bagi bayi karena melindungi pembuluh-pembuluh darah yang lembut di dalam kepalanya dari kemungkinan cidera, juga sangat baik bagi Ibu, karena mengurangi resiko robeknya perineum
- Bidan akan meminta agar ibu bernapas pendek-pendek bukan mengejan, ketika kepala bayi keluar dan ini juga akan membantu kelahiran yang lembut
(Kehamilan dan Melahirkan, Mary Nolan, 2003: 127)


1.3.3 Menjahit Episiotomi
Tujuan menjahit laserasi atau episiotomi adalah untuk menyatukan kembali jaringan tubuh (mendekatkan) dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu (memastikan hemostasis). Ingat bahwa setiap kali jarum masuk ke dalam jaringan tubuh, jaringan akan terluka dan menjadi tempat yang potensial untuk timbulnya infeksi. Oleh sebab itu pada saat menjahit laserasi atau episiotomi gunakan benang yang cukup panjang dan gunakan sesedikit mungkin jahitan untuk mencapai tujuan pendekatan dan hemostasis.
Keuntungan-keuntungan teknik penjahitan jelujur:
• Mudah dipelajari (hanya perlu belajar satu jenis penjahitan dan satu atau dua jenis simpul)
• Tidak terlalu nyeri karena lebih sedikit benang yang digunakan
• Menggunakan lebih sedikit jahitan
Mempersiapkan penjahitan :
1. Bantu ibu mengambil posisi litotomi sehingga bokongnya berada di tepi tempat tidur atau meja. Topang kakinya dengan alat penopang atau minta anggota keluarga untuk memegang kaki ibu sehingga ibu tetap berada dalam posisi litotomi.
2. Tempatkan handuk atau kain bersih di bawah bokong ibu.
3. Jika mungkin, tempatkan lampu sedemikian rupa sehingga perineum bisa dilihat dengan jelas.
4. Gunakan teknik aseptik pada saat memeriksa robekan atau episiotomi, memberikan anestesi lokal dan menjahit luka (Lihat Bab 1).
5. Cuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.
6. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau yang steril.
7. Dengan menggunakan teknik aseptik, persiapkan peralatan dan bahan-bahan disinfeksi tingkat tinggi untuk penjahitan (peralatan dan bahan-bahan ini tercantum di lampiran 5)
8. Duduk dengan posisi santai dan nyaman sehingga luka bisa dengan mudah dilihat dan penjahitan bisa dilakukan tanpa kesulitan.
9. Gunakan kain/kasa disinfeksi tingkat tinggi atau bersih untuk menyeka vulva, vagina dan perineum ibu dengan lembut, bersihkan darah atau bekuan darah yang ada sambil menilai dalam dan luasnya luka.
10. Periksa vagina, serviks dan perineum secara lengkap. Pastikan bahwa laserasi/sayatan perineum hanya merupakan derajat satu atau dua. Jika laserasinya dalam atau episiotomi telah meluas, periksa lebih jauh untuk memeriksa bahwa tidak terjadi robekan derajat tiga atau empat. Masukkan jari yang bersarung tangan ke dalam anus dengan hati-hati dan angkat jari tersebut perlahan-lahan untuk mengidentifikasi sfingter ani. Raba tonus atau ketegangan sfingter. Jika sfingter terluka, ibu mengalami laserasi derajat tiga atau empat dan harus dirujuk segera. Ibu juga dirujuk jika mengalami laserasi serviks.
11. Ganti sarung tangan dengan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril yang baru setelah melakukan pemeriksaan rektum.
12. Berikan anestesia lokal (kajilah teknik untuk memberikan anestesia lokal di bawah ini).
13. Siapkan jarum (pilih jarum yang batangnya bulat, tidak pipih) dan benang. Gunakan benang kromik 2-0 atau 3-0. Benang kromik bersifat lentur, kuat, tahan lama dan paling sedikit menimbulkan reaksi jaringan.
14. Tempatkan jarum pada pemegang jarum dengan sudut 90 derajat, jepit dan jepit jarum tersebut.
(Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial Persalinan, JNPK-KR, 2007: 151-152)
Dalam penjahitan episiotomi, penting menggunakan benang yang dapat diserap untuk menutup robekan. Benang poliglikolik lebih dipilih dibandingkan catgut kromik karena kekuatan regangannya, bersifat non alergenik, kemungkinan komplikasi infeksi dan kerusakan episiotominya lebih rendah. Catgut kromik dapat digunakan sebagai alternative, tetapi bukan benang yang ideal. (Manajemen Komplikasi Kehamilan & Persalinan, Devi Yulianti, 2006:307)
Komplikasi pada penjahitan episiotomi :
1. Jika terjadi hematoma, buka dan buat drain hematoma. Jika tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan perdarahan berhenti, tutup kembali episiotomy.
2. Jika terdapat tanda-tanda infeksi, buka dan buat drain luka. Angkat jahitan yang terinfeksi dan lakukan debridement luka.
3. Jika infeksi ringan, antibiotic tidak diperlukan.
4. Jika infeksi berat tetapi tidak mencapai jaringan dalam, berikan kombinasi antibiotic
5. Ampisilin 500 mg per oral empat kali sehari selama lima hari
6. Ditambah metronidazol 400 mg per oral tiga kali sehari selama lima hari
7. Jika infeksi dalam, mencapai otot, dan menyebabkan nekrosis (fasitis nekrotik), berikan kombinasi antibiotic sampai jaringan nekrotik dibuang dan ibu tidak demam selama 48 jam
8. Penisilin G 2 juta unit melalui IV setiap enam jam.
9. Ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan melalui IV setiap 24 jam
10. Ditambah metronidazol 500 mg melalui IV setiap delapan jam.
11. Setelah ibu tidak demam selama 48 jam, berikan
12. Ampisilin 500 mg per oral empat kali sehari selama lima hari.
Catatan : Fasitis nekrotik memerlukan debridement bedah yang luas. Lakukan penutupan primer lambat dalam dua sampai empat minggu (bergantung pada penyembuhan infeksi).
(Manajemen Komplikasi Kehamilan & Persalinan, Devi Yulianti, 2006:307)















DAFTAR PUSTAKA

Varney, Helen, dkk. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 2. Jakarta : EGC
Indiarti M.T., 2007. Panduan Lengkap Kehamilan, Persalinan dan Perawatan Bayi, Jogjakarta: Diglossia Media
Johnson, Ruth, dkk., 2004. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta: EGC
Yulianti, Devi. 2006. Manajemen Komplikasi Kehamilan & Persalinan. Jakarta: EGC
Sumarah, dkk. 2009. Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin). Jakarta: Fitramaya
Wiknjosastro, Hanafi. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo
Cuningham, E. Gary et al. 2006. Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta: EGC
JNPK-KR. 2007. Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial Persalinan. Jakarta : Jaringan Nasional Pelatihan Klinik
JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta : Jaringan Nasional Pelatihan Klinik

Oktober 29, 2010

PERAWATAN PASCA OPERASI, 28 OKTOBER 2010

TUGAS KELOMPOK
“POST OPERASI”
Disusun untuk memenuhi tugas kelompok
Mata Kuliah Ginekologi
Dosen : Dr.Mulyohadi S.,SpOG(K)


Disusun Oleh :
ANISYA KUMALA S. 0902100004
INTAN LOKA DYAH M.C. 0902100014
NOVITASARI MUSTIKA R. 0902100024
SUMIATI 0902100034
KELAS 2A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPULIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN MALANG
TAHUN 2010


DAFTAR ISI
Halaman Sampul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Operasi Ginekologi 2
2.2 Tujuan Perawatan Post Operasi 2
2.3 Pedoman Perawatan Post Operasi 3
2.4 Kebutuhan Nutrisi Post Operasi 4
2.5 Komplikasi Yang Disebabkan Oleh Perawatan Post Operasi 7
2.6 Perubahan Yang Terjadi Pada Post Operasi 13
2.7 Menjelaskan Mengenai Pengobtan Baik Penatalaksanaan Medis
Maupun Keperawatan Untuk Post Operasi 14

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 16
3.2 Saran 16
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Post Operasi”untuk melengkapi tugas kelompok mata kuliah Ginekologi.
Dalam menyelesaikan makalah ini penulis menemukan beberapa hambatan. Namun, semua hambatan tersebut dapat diatasi dengan bantuan beberapa pihak.Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak pihak yang telah membantu :
1.Dr.Mulyohadi S.,SpOG(K) selaku dosen pengajar mata kuliah Ginekologi
2.Orang tua selaku pemberi dukungan baik dukungan spiritual maupun dukungan materiil
3.Teman teman kelas 2A dan 2B tercinta yang telah memberi motivasi
Tiada gading yang tak retak merupakan peribahasa yang mewakili kekurangan penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu makalah ini masih memerlukan perbaikan sehingga kami membutuhkan saran saran yang membangun dari segenap pembaca demi kesempurnaan makalah ini.


Malang, Oktober 2010

Penulis



BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Minggu pertama pascaoperasi bisa menjadi masa yang paling sulit, sebab rasa nyeri dan tidak nyaman, padahal pasien ingin melakukan pekerjaan sehari-harinya. Hormone-hormon yang ada juga dapat mengacaukan emosi, membuat pasien pasca operasi mudah menangis dan lelah. Penting untuk pasien untuk melanjutkan latihan-latiham karena hal itu dapat meningkatkan movbilitas yang akan mmpermudah saat pulang ke rumah nantinya. Sebelum meninggalkan rumah sakit, perlu untuk memastikan bahwa semua hal sudah siap bagi pasien dan aka nada cukup bantuan saat pasien pulang ke rumah.
Setelah operasi, rasanlya nyaris mustahil untuk melakukan hal-hal yang paling sederhana sekalipun. Ada gerakan-gerakan tertentu yang mungkin sulit untuk dilakukan sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
 Apakah definisi operasi ginekologi ?
 Apakah tujuan perawatan post operasi ?
 Apakah pedoman perawatan post operasi ?
 Bagaimanakah kebutuhan nutrisi post operasi ?
 Apakah komplikasi yang disebabkan oleh perawatan post operasi ?
 Apakah perubahan yang terjadi pada post operasi ?
 Bagaimanakah pengobtan baik penatalaksanaan medis maupun keperawatan untuk post operasi ?
1.3 Tujuan
 Mengetahui definisi operasi ginekologi
 Mengetahui tujuan perawatan post operasi
 Menjelaskan pedoman perawatan post operasi
 Menjelaskan kebutuhan nutrisi post operasi
 Menjelaskan komplikasi yang disebabkan oleh perawatan post operasi
 Menjelaskan perubahan yang terjadi pada post operasi
 Menjelaskan mengenai pengobtan baik penatalaksanaan medis maupun keperawatan untuk post operasi

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Operasi Ginekologi
Operasi ginekologi adalah tindakan pembedahan pada wanita akibat adanya tumor yang berhubungan di alat reproduksi, baik itu berasal dari rahim/uterus, ovarium/indung telur maupun dari vulva, dan kelainan bawaan dari uterus seperti kelainan bentuk uterus. Secara umum dalam tindakan operasi tumor kandungan ada dua pilihan mengangkat tumor saja atau mengangkat tumor dan alat kandungan (uterus dan ovarium).
Dengan semakin baiknya pengetahuan operasi ginekologi pada masa reproduksi, maka semakin meningkat pula upaya peduli masalah operasi onkologi. Keputusan untuk melakukan operasi tertentu diambil setelah dibuat diagnosis tentang penyakitnya dan tentang kondisi penderita, dan setelah dipertimbangkan jenis operasi yang paling tepat baginya. Pada sebagian besar operasi, tindakan dapat dilakukan setelah segala persiapan selesai, dan dipilih waktu yang paling menguntungkan; operasi demikian dinamakan operasi elektif. Keberhasilan operasi ginekologi tergantung pada evaluasi menyeluruh pra operasi, persiapan sebelum operasi, kemampuan pembedah (operator) dan penguasaan teknik operasi, serta perawatan pasca operasi yang tepat.

2.2 Tujuan Perawatan Post Operasi
Tujuan perawatan pasca operasi adalah pemulihan kesehatan fisiologi dan psikologi wanita kembali normal. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya hidupnya. Secara klasik, kelanjutan ini dibagi dalam tiga fase yang tumpang tindih pada status fungsional pasien. Aturan dan perhatian para ginekolog secara gradual berkembang sejalan dengan pergerakan pasien dari satu fase ke fase lainnya. Fase pertama, stabilisasi perioperatif, menggambarkan perhatian para ahli bedah terhadap permulaan fungsi fisiologi normal, utamanya sistem respirasi, kardiovaskuler, dan saraf. Pada pasien yang berumur lanjut, akan memiliki komplikasi yang lebih banyak, dan prosedur pembedahan yang lebih kompleks, serta periode waktu pemulihan yang lebih panjang. Periode ini meliputi pemulihan dari anesthesia dan stabilisasi homeostasis, dengan permulaan intake oral. Biasanya periode pemulihan 24-28 jam.
Fase kedua, pemulihan postoperatif, biasanya berakhir 1-4 hari. fase ini dapat terjadi di rumah sakit dan di rumah. Selama masa ini, pasien akan mendapatkan diet teratur, ambulasi, dan perpindahan pengobatan nyeri dari parenteral ke oral. Sebagian besar komplikasi tradisional postoperasi bersifat sementara pada masa ini. Fase terakhir dikenal dengan istilah “kembali ke normal”, yang berlangsung pada 1-6 minggu terakhir. Perawatan selama masa ini muncul secara primer dalam keadaan rawat jalan. Selama fase ini, pasien secara gradual meningkatkan kekuatan dan beralih dari masa sakit ke aktivitas normal.
2.3 Pedoman Perawatan Post Operasi
Setelah operasi selesai, penderita tidak boleh ditinggalkan sampai ia sadar. Harus dijaga supaya jalan napas tetap bebas. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya hidupnya. Penderita yang menjalani operasi kecuali operasi kecil, keluar dari kamar operasi dengan infus intravena yang terdiri atas larutan NaCl 0,9% atau glukosa 5% yang diberikan berganti-ganti menurut rencana tertentu. Di kamar operasi (atau sesudah keluar dari situ) ia, jika perlu, diberi pula transfusi darah.
Pada waktu operasi penderita kehilangan sejumlah cairan, sehingga ia meninggalkan kamar operasi dengan defisit cairan. Oleh karena itu, biasanya pascaoperasi minum air dibatasi, sehingga perlu pengawasan keseimbangan antara cairan yang masuk dengan infus, dan cairan yang keluar. Perlu dijaga jangan sampai terjadi dehidrasi, tetapi sebaliknya juga jangan terjadi kelebihan dengan akibat edema paru-paru. Untuk diketahui, air yang dikeluarkan dari badan dihitung dalam 24 jam berupa air kencing dan cairan yang keluar dengan muntah harus ditambah dengan evaporasi dari kulit dan pernapasan. Dapat diperkirakan bahwa dalam 24 jam sedikitnya 3 liter cairan harus dimasukkan untuk mengganti cairan yang keluar.
Sebagai akibat anestesi, penderita pascaoperasi biasanya enek, kadang sampai muntah. Ia tidak boleh minum, sampai rasa enek hilang sama sekali; kemudian, ia boleh minum sedikit-sedikit, untuk lambat laun ditingkatkan. Dalam 24 sampai 48 jam pascaoperasi, hendaknya diberi makanan cair; sesudah itu, apalagi jika sudah keluar flatus, dapat diberi makanan lunak bergizi untuk lambat-laun menjadi makanan biasa.
Pada pascaoperasi peristalik usus mengurang dan baru lambat laun pulih kembali. Pada hari kedua pascaoperasi biasanya usus bergerak lagi; dengan gejala mules, kadang-kadang disertai dengan perut kembung sedikit. Pengeluaran flatus dapat dibantu dengan pemberian dosis kecil prostigmin, dengan teropong angin dimasukkan ke dalam rektum, dan kadang-kadang perlu diberikan klisma kecil terdiri atas 150 cc. campuran minyak dan gliserin.
Pemberian antibiotik pada pascaoperasi tergantung dari jenis operasi yang dilakukan. Misalnya, setelah kista ovarium kecil diangkat, tidak perlu diberi antibiotik; akan tetapi sesudah histerektomi total dengan pembukaan vagina, sebaiknya obat tersebut diberikan.
Pasien dengan masalah kesehatan membutuhkan perawatan postoperatif dalam ICU untuk mendapatkan ventilasi jangka panjang dan monitoring sentral. Ketika pasien diserahterimakan kepada perawat harus disertai dengan laporan verbal mengenai kondisi pasien tersebut berupa kesimpulan operasi dan intruksi pasca operatif. Intruksi pasca operatif harus sesuai dengan elemen berikut:
2.3.1 Tanda Tanda Vital
Evaluasi tekanan darah, nadi, dan laju pernapasan dilakukan setiap 15-30 menit sampai pasien stabil kemudian setiap jam setelah itu paling tidak untuk 4-6 jam. Beberapa perubahan signifikan harus dilaporkan sesegera mungkin. Pengukuran ini, termasuk temperatur oral, yang harus direkam 4 kali sehari untuk rangkaian sisa pasca operatif. Anjurkan pernapasan dalam setiap jam pada 12 jam pertama dan setiap 2-3 jam pada 12 jam berikutnya. Pemeriksaan spirometri dan pemeriksaan respirasi oleh terapis menjadi pilihan terbaik, utamanya pada pasien yang berumur tua, obesitas, atau sebaliknya pada pasien lainnya yang bersedia atau yang tidak bisa berjalan.
2. 3.2 Perawatan Luka
Fokus penanganan luka adalah mempercepat penyembuhan luka dan meminimalkan komplikasi dan biaya perawatan. Fokus utama dalam penanganan luka adalah dengan evakuasi semua hematoma dan seroma dan mengobati infeksi yang menjadi penyebabnya. Perhatikan perdarahan yang terlalu banyak (inspeksi lapisan dinding abdomen atau perineal). Lakukan pemeriksaan hematokrit sehari setelah pembedahan mayor dan, jika perdarahan berlanjut, diindikasikan untuk pemeriksaan ulang. Luka abdomen harus diinspeksi setiap hari. Umumnya luka jahitan pada kulit dilepaskan 3-5 hari postoperasi dan digantikan dengan Steri-Strips.Idealnya, balutan luka diganti setiap hari dan diganti menggunakan bahan hidrasi yang baik. Pada luka yang nekrosis, digunakan balutan tipis untuk mengeringkan dan mengikat jaringan sekitarnya ke balutan dalam setiap penggantian balutan. Pembersihan yang sering harus dihindari karena hal tersebut menyebabkan jaringan vital terganggu dan memperlambat penyembuhan luka.

2.3.3 Penanganan Nyeri
Pengontrolan nyeri dilakukan dengan menggunakan analgetik secara intravena atau intratrakea utamanya untuk pembedahan abdomen terbuka. Kombinasi anestesi spinal-epidural dapat memanfaatkan anestesi spinal. Dengan anestesi spinal continu, pasien yang menjalani pembedahan mayor dibawah level umbilikus akan mendapatkan analgetik postoperatif jangka panjang dan efektif. Kelanjutan dari pembedahan mayor, pemberian analgetik narkotik (contohnya: meperidin, 75-100 mg secara intramuscular setiap 4 jam, atau morfin, 10 mg intramuskuler setiap 4 jam) untuk mengontrol nyeri juga dibutuhkan.
Ketika pasien mentoleransikan intake oral dengan baik, regimen obatnya harus diganti menjadi analgetik oral dan harus didukung oleh ambulasi. Dua kelas besar untuk terapi non-opioid adalah acetaminophen dan obat-obat anti inflamasi (NSAIDs). Secara umum, obat-obat ini ditoleransi secara baik dan mempunyai resiko rendah terhadap efek samping yang serius. Meskipun demikian, acetaminophen bersifat toksik untuk hati jika digunakan dalam dosis yang besar. Dosis acetaminophen yang lebih dari 4.000 mg/hari harus dihindari, khususnya jika kombinasi terapi obat opioid dan non-opioid oral digunakan. Jika diberikan secara preoperatif, NSAIDs menurunkan nyeri pasca operasi dan mengurangi jumlah kebutuhan opiate (Adachi, 2007; Akarsu, 2004; Chan, 1996; Mixter, 1998).
Meskipun efek samping dari opiat berupa depresi saluran pernapasan, mual serta muntah. Akan tetapi terapi opiat merupakan pilihan utama untuk mengelola nyeri sedang sampai berat. Ketiga obat opiat yang biasanya diresepkan setelah pembedahan adalah morfin, fentanil, dan hydromorphin.

2.3.4. Posisi Tempat Tidur
Pasien biasanya ditempatkan pada posisi miring untuk mengurangi inhalasi muntah atau mukus. Posisi lainnya yang diinginkan oleh ahli bedah harus dinyatakan dengan jelas, contohnya, posisi datar dengan kaki tempat tidur yang elevasi.

2.3.5. Selang Drainase
Hubungkan bladder dengan kateter untuk sistem drainase berdasarkan gravitasi. Penulisan intruksi untuk drainase postoperatif lainnya, penggunaan kateter suksion, pemintaan tekanan negatif dan interval pengukuran volume drainase harus spesifik dan jelas.

2.3.6. Penggantian Cairan
Pemberian cairan secara oral atau intravena dibutuhkan. Untuk penentuan cara pemberian cairan pasien dibutuhkan, selalu ambil berdasarkan faktor-faktor jumlah seperti kehilangan cairan intraoperatif dan output urin, waktu pembedahan, penggantian cairan intraoperatif, dan jumlah cairan yang diterima pada waktu pemulihan. Meskipun setiap pasien dan jenis operasi berbeda, rata-rata pada pasien muda yang sehat mendapatkan penggantian cairan intraoperatif sebanyak 2400 mL sampai 3 liter cairan kristaloid dan glukosa, seperti Dekstrose 5% dalam setengah larutan garam normal selama 24 jam pertama. Laju hidrasi intravena harus dilakukan secara individu, seperti banyak pasien lainnya yang memerlukan volume yang kurang dan menyebabkan cairan overload pada laju cairan yang lebih cepat. Pada pasien dengan fungsi ginjal normal, penggantian cairan adekuat dapat dinilai pada output urin paling tidak sebesar 30 mL/jam.

2.3.7. Diet
Tujuan utama pemberian makan setelah operasi adalah untuk meningkatkan fungsi imun dan mempercepat penyembuhan luka yang meminimalisir ketidakseimbangan metabolik. Dari penelitian random didapatkan bahwa pemberian makan harus sesuai dan bermanfaat. Untuk pembedahan minor, pemberian makanan dibutuhkan dan ditoleransi, ketika pasien sadar secara penuh. Ketidaksetujuan muncul berupa seberapa cepat kemajuan diet pasien setelah pembedahan major. Hal ini bersifat individual bergantung pada setiap pasien dan pada beberapa faktor. Satu cara kemungkinan yang dapat dilakukan pada pasien berupa isapan air pada hari pembedahan. Jangan berikan air es, karena dapat menurunkan motilitas usus secara signifikan. Berikan cairan encer pada hari pertama pasca operasi jika telah terdengar bunyi usus sampai udara usus keluar. Kemudian ganti makanan secara teratur. Waktu yang dibutuhkan untuk pengembangan diet secara lengkap bergantung pada prosedur pembedahannya, durasi anestesi, dan variasi individu pasien. Pada dua penelitian random didapatkan bahwa pasien tertentu dapat diberikan makan sesegera mungkin 1 hari setelah operasi pembedahan ginekologi intra-abdomen.
Kurangnya asupan protein-kalori yang besar pada pasien yang mengalami pembedahan dapat menyebabkan gangguan pada penyembuhan luka, penurunan fungsi jantung dan paru, perkembangan bakteri yang berlebih dalam traktus gastrointestinal, dan komplikasi lainnya yang menambah jumlah hari rawat inap dan morbiditas pasien (Elwyn, 1975; Kinney, 1986; Seidner, 2006). Jika substansial intake kalori terlambat diberikan dalam 7-10 hari, maka perlu pemberian makanan tambahan. Berikut ini adalah kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan setelah operasi.

2.4 Kebutuhan Nutrisi Setelah Operasi
Karena tidak adanya kontraindikasi, pemberian nutrisi secara enteral lebih dipilih dibanding rute parenteral, khususnya jika terdapat komplikasi infeksi (Kudsk, 1992; Moore, 1992). Keuntungan lain dari nutrisi enteral adalah penurunan biaya penyembuhan (Nehra, 2002). Setelah operasi telah ditemukan efektif, dimulai sesegera mungkin setelah operasi. Makan segera setelah operasi telah menunjukkan peningkatan penyembuhan luka, merangsang motilitas usus, menurunkan stasis usus, meningkatkan aliran darah usus, dan merangsang refleks sekresi hormon gastrointestinal yang dapat mempermudah kerja usus setelah operasi (Anderson, 2003; Braga, 2002; Correia, 2004; Lewis, 2001). Keputusan inisiasi “makan sesegera mungkin” dengan cairan atau makanan lunak telah diteliti secara prospektif (Jeffery, 1996). Pada pasien yang diberikan makanan lunak sebagai makanan pertama setelah operasi.
Sesudah penderita sadar, pada pascaoperasi ia dapat menggerakkan lengan dan kakinya, dan tidur miring apabila hal itu tidak dihalangi oleh infus yang diberikan kepadanya. Tidak ada ketentuan yang pasti kapan ia bisa duduk, keluar dari tempat tidur, dan berjalan. Hal itu, tergantung dari jenis operasi, kondisi badannya, dan komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul. Di Indonesia keperluan early ambulation tidak seberapa mendesak karena disini bahaya tromboflebitis pascaoperasi tidak besar. Pada umumnya pengangkatan jahitan pada laparatomi dilakukan pada hari ke-7 pascaoperasi untuk sebagian dan diselesaikan pada hari ke-10.
Secara umum, untuk mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan kondisi pasien pasca operasi, perlu kita perhatikan tips di bawah ini:
• Makan makanan bergizi, misalnya: nasi, lauk pauk, sayur, susu, buah.
• Konsumsi makanan (lauk-pauk) berprotein tinggi, seperti: daging, ayam, ikan, telor dan sejenisnya.
• Minum sedikitnya 8-10 gelas per hari.
• Usahakan cukup istirahat.
• Mobilisasi bertahap hingga dapat beraktivitas seperti biasa. Makin cepat makin bagus.
• Mandi seperti biasa, yakni 2 kali dalam sehari.
• Kontrol secara teratur untuk evaluasi luka operasi dan pemeriksaan kondisi tubuh.
• Minum obat sesuai anjuran dokter.
2.5 Komplokasi Post Operasi Ginekologi Berdasarkan Sistem
2.5.1. Sistem Urinaria
Retensi urin merupakan masalah yang sering muncul setelah pembedahan ginekologi, dengan insidensi 7-80% bergantung pada prosedur pembedahan yang dilakukan (Stanton, 1979; Tammela, 1986). Overdistensi dapat menyebabkan kesulitan miksi jangka panjang dan kerusakan detrusor secara permanen (Mayo, 1973).
Keita dan kawan-kawan (2005) secara prospektif mengevaluasi faktor resiko potensial dari retensi urin pasca operasi. Tiga faktor utama yang bersifat independen dan berhubungan dengan peningkatan resiko seperti umur yang lebih dari 50 tahun, pemakaian cairan intraoperatif yang lebih dari 750 mL, dan volume urin bladder yang lebih dari 270 mL yang diukur sewaktu memasuki ruang pemulihan. Diantara prosedur ginekologi, resiko lebih besar setelah laparatomi dilakukan jika dibandingkan dengan prosedur laparaskopi (Bodker, 2003).
Tanda klinis dari retensi urin berupa nyeri, takikardi, urgensi, dan pembesaran bladder yang didapatkan dengan palpasi atau perkusi. Tanda klinis ini ditemukan bersamaan dengan evaluasi volume urin disamping penggunaan sonography bladder (Bodker, 2003). Saat retensi teridentifikasi, kateterisasi dan drainase bladder harus dilakukan. Lau dan Lam (2004) memperlihatkan bahwa kateterisasi merupakan cara terbaik dalam pengelolaan retensi urin pasca operasi. Dibanding dengan dekompressi bladder sepanjang malam dengan kateter indwelling, episode kateterisasi in dan out sama-sama efektif. Lebih jauh, morbiditas infeksi antara keduanya tidak berbeda secara signifikan.

2.5.2. Sistem Respirasi
Komplikasi paru yang luas menyebabkan sulitnya memperkirakan insidensinya secara akurat, tetapi laporan memperkirakan kisaran antara 9-69% (Calligaro, 1993; Hall, 1991; Qaseem, 2006). Komplikasi paru yang sering ditemui oleh para ginekolog adalah atelectasis dan pneumonia. Lima faktor resiko signifikan untuk komplikasi paru yang muncul setelah pembedahan abdomen adalah umur yang lebih dari 60 tahun, IMT lebih dari 27, riwayat kanker, merokok dalam waktu 8 minggu terakhir, dan insisi pembedahan yang dilakukan pada abdomen bagian atas (Brooks-Brunn, 1997).

a. Atelektasis
Penyakit ini ditandai dengan penurunan suara pernapasan atau bunyi tumpul pada saat perkusi pada bagian paru yang terkena. Sebagai tambahan, densitas linear pada lapangan paru bagian bawah yang ditemukan dalam gambaran radiografi dada (Hall, 1991). Secara klasik, atelektasis dihubungkan dengan demam derajat rendah. Meskipun demikian, Engoren dan kawan-kawan (1995) menilai 100 pasien postoperasi dewasa yang didiagnosis radilogi atelektasis tidak mengalami demam, sehingga kesimpulan penelitian ini bahwa tidak ada hubungan antara atelektasis dan demam postoperasi. Meskipun, demam sering terjadi setelah operasi abdominal, kondisi ini biasanya bersifat sementara, tergantung kondisi pasien, dan jarang memperlambat penyembuhan pasien (Platell, 1997). Pada kasus berat, atelektasis dapat dicegah dengan beberapa hal menggunakan terapi pengembangan paru (modalitas ekspansi paru).

b. Pneumonia
Penyakit ini merupakan infeksi nosokomial yang paling sering ditemukan di Amerika Serikat dan mempunyai angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi (tablan, 2004). Insidensi pada pasien pembedahan beragam dengan kisaran 1-19 % tergantung pada prosedur pembedahan dan peninjauan rumah sakit (Kozlow, 2003). Untuk infeksi ini, sebagian besar bakteri patogen secara khas bertanggung jawab adalah bakteri aerob gram-negatif yang berbentuk basil, seperti spesies Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, dan Acinetobacter.
Keluhan pada pneumonia mulai tampak 2-3 hari pascaoperasi. (ilmu kandungan) Secara klinik, pneumonia didiagnosis jika radiografi dada memperlihatkan sebuah gambaran infiltrat baru atau progresif dan jika dua atau tiga gejala klinis (seperti leukositosis, demam yang lebih dari 38ºC, atau sekresi purulen) ditemukan. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan endotrakeal oral atau orogastrik tube yang ditempatkan pada selang hidung; elevasi kepala terhadap tempat tidur sebesar 30-45°, utamanya selama makan; aspirasi sekresi subglotis pada kasus ini tidak dapat dihilangkan (American Thoracic Society, 2005).

2.5.3. Sistem Gatrointestinal
Fungsi gastrointestinal yang normal memerlukan motilitas yang sama di sepanjang sistem, mukosa untuk transportasi bahan makanan, dan refleks pengosongan (Nuley, 2004). Meskipun demikian, setelah pembedahan abdominal, disfungsi dari aktivitas saraf usus secara khas mengacaukan tenaga normal. Aktivitas pertama terjadi pada usus yang tercatat biasanya dalam 24 jam. Aktivitas kontraksi usus halus terhambat dalam 24 jam setelah pembedahan, tetapi fungsi normalnya terlambat dalam 3-4 hari (Condon, 1986; Dauchel, 1976). Motilitas kolon yang ritmik dimulai paling akhir, kira-kira 4 hari setelah pembedahan intra-abdomen (Huge, 2000). Pengeluaran flatus merupakan tanda khas dari kembalinya fungsi ini, dan tinja biasanya telah dapat dikeluarkan dalam 1-2 hari.
Ileus yang terjadi setelah operasi merupakan kerusakan sementara dari aktivitas gastrointestinal yang mengakibatkan distensi abdomen, bunyi usus hipoaktif, mual dan muntah yang menyebabkan akumulasi udara dan air di saluran gastrointestinal, dan pengeluaran flatus serta terlambat (Livingston, 1990).
Awal mula terjadinya ileus adalah multifaktorial. Pertama, manipulasi usus selama pembedahan menyebabkan munculnya beberapa faktor yang berkontribusi terhadap munculnya ileus: (1) faktor neurogenik yang dihubungkan dengan overaktivitas simpatis, (2) faktor hormonal yang menyebabkan pengeluaran hypothalamic corticotrophin-releasing factor (CRF), yang memainkan peran kunci dalam respon stress, dan (3) faktor inflamasi (Tache, 2001). Sebagai tambahan, penggunaan opioid perioperatif juga menjadi salah satu etiologi dari ileus. Kemudian, dalam pemilihan obat ini, dokter harus menyeimbangkan manfaat analgesik yang dihasilkan oleh ikatan reseptor opioid sentral melawan disfungsi gastrointestinal yang dihasilkan dari reseptor perifer yang menghasilkan efek ikatan (Holzer, 2004).
Tidak terdapat penanganan tunggal untuk pengelolaan ileus postoperasi. Pemberian elektrolit dan cairan intravena untuk memperbaiki kembali keadaan euvolemik yang merupakan terapi tradisional. Biasanya, dekompresi dengan menggunakan NGT rutin untuk mengistirahatkan usus telah ditantang oleh beragam prospektif, berupa percobaan random. Dalam sebuah penelitian meta-analisis terbaru pada 4200 pasien ditemukan bahwa dekompresi NGT rutin tidak berhasil dan tidak bermanfaat terhadap penggunaan selektif pada pasien simptomatis. Secara spesifik, pasien tanpa NGT fungsi ususnya kembali normal lebih cepat dan menurunkan resiko infeksi luka dan hernia ventral (Nelson, 2005). Sebagai tambahan, perasaan discomfort, mual, dan lama rawat inap akan berkurang. Untuk alasan ini, pemasangan NGT direkomendasikan hanya untuk mengurangi gejala kembung pada abdomen dan muntah yang rekurensi (Nunley, 2004).

2.5.4. Sistem Sirkulasi
Disfungsi sirkulasi menyebabkan penurunan oksigenasi jaringan dan menghasilkan kegagalan multiorgan jika tidak dikenali dan diterapi dengan segera. Pada kasus ginekologi, penyebab utama syok adalah perdarahan yang berakhir ke hipovolemia. Meskipun syok kardiogenik, sepsis dan neurogenik dapat juga dipertimbangkan selama observasi. Penilaian tehadap perfusi oksigen dan status hemodinamik cukup penting dalam masa postoperasi awal. Sayangnya, tanda-tanda berupa tekanan darah dan denyut jantung saat istirahat tidak berdampak sepanjang kompensasi awal. Contohnya, setelah kehilangan darah yang lebih dari 25-30% dari volume tubuh total, hipotensi biasanya muncul terlambat dibanding tanda-tanda disfungsi organ lainnya yang berupa oliguri, dan perubahan status mental.
Penanganan shock hipovolemia oleh karena perdarahan yang tidak berhenti adalah dengan penggantian volume intravaskuler. Pada awalnya, suplai oksigen disajikan untuk menghindari desaturasi jaringan (Wilson, 2003). Secara simultan, infus segera dengan cairan kristaloid isotonik melalui intravena dapat mempercepat penggantian cairan. Jika terdapat hipotensi berat, pemberian koloid dan tranfusi sel darah merah dibutuhkan. Jika terdapat hipovolemia, penggunaan vasopressor tidak direkomendasikan untuk digunakan kecuali untuk bantuan yang bersifat sementara dengan kondisi yang tidak stabil ketika resusitasi cairan dipertimbangkan. Selama penanganan, resusitasi dimonitoring secara berkelanjutan sepanjang tekanan vena sentral, output urin, dan status pasien secara umum. Akhirnya, jika perdarahan terus-menerus terjadi, campur tangan operatif dapat menurunkan resiko untuk melanjutkan terapi konservatif. Intraoperatif, isolasi dan pengontrolan perdarahan harus dilakukan secara sistematik. Setelah pasien stabil, penting dilakukan pemeriksaan abnormalitas elektrolit, ketidakseimbangan koagulasi, dan iskemia organ.

2.5.5. Demam Sistemik Pasca Operasi
Salah satu masalah yang sering ditemukan setelah operasi adalah demam. Meskipun demam merupakan sebuah gambaran proses infeksi, sebagian besar merupakan penyakit self-limited (Garibaldi, 1985). Meskipun demikian, untuk penyakit ini dengan gejala persisten, pendekatan sistemik dalam mengevaluasi pasien akan menolong membedakan inflamasi dari etiologi infeksi.
Demam merupakan sebuah respon inflamasi yang dilakukan oleh mediator, dikenal dengan pyrogen, yang berasal dari dari endogen atau eksogen. Pyrogen bersirkulasi menyebabkan pengeluaran prostaglandin (utamanya PGE2), yang mengubah set point pada termoregulator. Reaksi infalamasi ini menghasilkan sejumlah sitokin (Interleukin-1, interleukin-6, dan TNF) yang ditemukan dalam sirkulasi setelah beragam kejadian seperti pembedahan, kanker, trauma, dan infeksi (Wortel, 1993). Kemudian, differential diagnosis terhadap demam yang terjadi setelah operasi termasuk penyebab non-infeksi dan infeksi.
Demam setelah operasi berkembang lebih dari 2 hari setelah pembedahan yang biasanya disebabkan oleh infeksi. Penyebab tersering berada dalam kategori besar yakni angin, air, berjalan, luka, dan obat yang meragukan. Pertama, pneumonia harus dipertimbangkan, dan wanita berada pada resiko paling besar yang secara mekanik mendapatkan ventilasi lebih banyak karena periode rawat inap yang lebih panjang, memakai NGT, atau pernah mendapatkan COPD sebelumnya. Sebagai tambahan, pemakaian kateter juga akan meningkatkan resiko infeksi pada traktus urinarius. Secara logis, penggunaan lama kateter berhubungan secara postif dengan resiko infeksi ini. Demam yang berhubungan dengan infeksi pada area pembedahan biasanya berkembang pada hari ke 5-7 setelah pembedahan. Infeksi ini menyerang lapisan dinding pelvis dan abdomen. Akhirnya obat-obatan yang sering digunakan setelah operasi seperti heparin, antibiotik beta-laktam, dan sulfonamide dapat menyebabkan kemerahan, eosinofilia, atau demam karena obat.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk mendeteksi demam adalah pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, kultur darah, dan radiografi dada yang telah dievaluasi pada beberapa penelitian dan sangat efisien serta efektif (Badillo, 2002; de la Torre, 2003; Schey, 2005). Kemudian, pemeriksaan utama pada wanita dengan demam setelah operasi dilakukan sendiri dan dimulai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisis.

2.5.6. Dehisensi Luka
Meskipun perkembangan klinis telah maju di bidang anesthesia, antibiotik preoperatif, teknologi jahitan bedah, dan perawatan postoperatif, insidensi gangguan luka tidak banyak berubah (Cliby, 2002). Dehisensi menyebabkan pasien harus dirawat inap dalam jangka waktu yang lama dan membutuhkan perawatan intensif. Kemudian, seorang ahli bedah memiliki ilmu pengetahuan terhadap faktor resiko dan pilihan penanganan untuk komplikasi ini.
Luka superficial biasanya muncul pada hari ke 3-5 setelah pembedahan, dengan luka yang eritema dan drainase onset baru. Satu cara mengidentifikasi adalah dengan isolasi selulitis luka dengan terapi antibiotik sistemik. Meskipun demikian, keterlambatan dalam evakuasi cairan eksudat luka yang inflamasi dari lapisan subkutan yang tidak memiliki ruang dapat melemahkan fascia dan meningkatkan resiko dehisensi fascia.
Umumnya dehisensi terjadi dalam 10 hari setelah operasi. Gangguan superficial pada lapisan subkutaneus dan kebocoran ekstensif berupa cairan purulen peritoneal diindikasikan untuk didrainase. Irigasi digunakan untuk menutupi luka dan memindahkan bakteri tanpa merusak komponen penyembuh luka. Povidone-iodne, balutan iodophor, cairan hydrogen peroksida, dan cairan Daiken bersifat sitotoksik terhadap sel darah putih dan tidak boleh digunakan pada perawatan luka (Bennett, 2001; Otoole, 1996).

2.4.7. Tromboflebitis
Komplikasi ini jarang ditemukan pada penderita pascaoperasi di Indonesia. Penyakit ini terdapat pada vena yang bersangkutan sebagai radang, dan sebagai trombosit tanpa tanda radang. Pada tromboflebitis dalam minggu kedua pascaoperasi suhu naik, nadi mencepat, timbul nyeri spontan pada perabaan vena yang bersangkutan, dan tampak edema pada kaki, terutama jika vena femoralis yang terkena. Trombus disini melekat kuat pada dinding pembuluh darah, dan tidak banyak bahaya akan emboli paru-paru. Pada trombosis vena tidak terdapat banyak gejala, mungkin suhu agak naik; thrombus tidak melekat erat pada dinding pembuluh darah, dan bahaya emboli paru-paru lebih besar.
Walaupun komplikasi ini jarang terjadi di Indonesia, ada juga manfaatnya untuk menyelenggarakan pencegahan dengan menyuruh penderita selama masih berbaring di tempat tidur menggerakkan kakinya secara aktif, ditambah dengan gerakan lain yang diselenggarakan dengan bantuan seorang perawat.

2.6 Perubahan Pasca Operasi
Sesudah operasi, timbul beberapa perubahan pada badan. Ini perlu diketahui. Perubahan – perubahan itu ialah:
1. Kehilangan darah dan air ynag menyebabkan berkurangnya volume cairan dalam sirkulasi. Karena hemokonsentrasi dan vasokonstriksi tekanan darh dipertahankan, dan dengan mengalirnya cairan daari ruang ekstraselular, volume kemudian pulih kembali. Akan tetapi jika misalnya terjadi perdarahan terlalu banyak, tensi menurun dan nadi menjadi cepat, dan bahaya syok mengancam.
2. Dieuresis pascaoperasi agak berkurang, tetapi beberapa hari kemudian menjadi normal kembali. Pengukuran air kencing yang dikeluarkan sangat perlu oleh karena oliguri merupakan tanda syok mengancam.
3. Perlu diketahui bahwa sebagai akibat operasi terjadi penghancuran protein jaringan; bahwa ekskresi kalsium meningkat, sedang pengeluaran natrium dan klorida berkurang.

2.7 Penanganan Pasca Operasi
Setelah operasi selesai, penderita tidak boleh ditinggalkan sampai ia sadar harus dijaga supaya jalan pernapasan tetap bebas. Pada umunya, setelah dioperasi, penderita ditempatkan dalam ruang pulih(recovery room) dengan penjagaan terus-menerus sampai ia sadar. Selama beberapa hari sampai dianggap tiidak perlu lagi, suhu, nadi, tensi, dan dieresis harus diawasi terus-menerus. Sesudah penderita sadar, biasanya ia mengeluh kesakitan. Rasa sakit ini dalam beberapa hari berangsur kurang. Pada hari opersai dan esok harinya ia biasnya memerlukan obat tahan nyeri, seperti petidin; kemudian, biasanya dapat diberikan analgetikum yang lebih ringan.
Penderita yang mengalami operasi - kecuali operasi kecil- keluar dari kamar operasi dengan infuse intravena yang terdiri atas larutan NaCl 0,9%, atau glukosa 5%, yang diberikan berganti – ganti menurut rencana tertentu. Di kamar operasi(atausesudah keluar dari situ)ia, jika perlu, diberi transfuse darah. Pada waktu operasi penderita kehilangan sejumlah cairan, sehingga ia meninggalkan kamar operasi dengan defisit cairan. Maka, khususnya apabila pada pascaoperasi minum air perlu dibatasi, perlulah diawasi benar keseimbangan antara cairan yang masuk dengan infus, dan cairan yang keluar. Perlu dijaga jangan sampai terjadi dehidrasi, tetapi sebaliknya juga jangan juga jangan terjadi kelebihan dengan akibat edema paru – paru. Untuk diketahui, air yang dikeluarkan dari badan dalam 24 jam, air kencing dan cairan yang keluar dengan muntah harus ditambah dengan evaporasi dari kulit dan pernapasan. Dapat diperkirakan bahwa dalam 24 jam sedikit-dikitnya 3 liter cairan harus dimasukkan untuk mengganti yang keluar.
Sebagai akibat anestesi, penderita pascaoperasi biasanya enek, kadang sampai muntah. Ia tidak boleh minum, sampai rasa enek hilang sama sekali, kemudian ia boleh minum sedikit-sedikit, untuk lambat laun ditingkatkan. Dalam 24 jam sampai 48 jam pascaoperasi, henfaknya diberi makanan cairan, sesudah itu apabila jika sudah keluar flaktus, dapat diberi makanan lunak yang bergizi ubtuk lambat-laun menjadi makanan biasa.
Pada pascaoperasi peristaltik usus mengurang dan baru lambat laun pulih kembali. Pada hari kedua pascaoperasi biasanya usus bergerak lagi. Dengan gejala mules, kadang – kadang disertai dengan perut kemubung sedikit. Pengeluaran flatus dapat dibantu dengan pemberian dosis kecil prostigmin, dengan teropong angin dimasukkan kedalam rectum, dan kadang – kadang perlu diberikan klisma kecil terdiri atas 150cc. campuran minyak dan gliserin.
Pemberian antibiotika pada pascaoperasi tergantung dari jenis operasi yang dilakukan. Misalnya, setelah kista ovarium diangkat, tidak perlu diberi antibiotika, akan tetapi, sesudah histeroktomi total dengan pembukaan vagina, sebaiknya obat tersebut diberikan.
Setelah penderita sadar, pada pascaoperasi ia dapat menggerakkan lengan dan kakinya, tidur miring apabila hal itu tidak dihalangi oleh infus yang diberikan kepadanya. Tidak ada ketentuan yang pasti kapan ia bisa duduk, keluar dari tempat tidur, dan berjalan. Hal itu tergantung dari jenis operasi, kondisi badannya dan komplikasi- komplikasi yang mungkin timbul. Di Indonesia keperluan early ambulation tidak seberapa mendesak karena disini bahaya tromboflebitis pascaoperasi tidak besar. Pada umumnya pengangkatan jahitan pada laparotomi dilakukan pada hari ke – 7 pascaoperasi untuk sebagian dan diselesaikan pada hari ke – 10.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Tujuan perawatan pasca operasi adalah pemulihan kesehatan fisiologi dan psikologi wanita kembali normal
2. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai
pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya hidupnya
3. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai
pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya hidupnya
4. Pedoman perawatan pasca operatif harus sesuai dengan elemen elemen seperti, tanda tanda vital,perawatan lukan, penanganan nyeri, posisi tempat tidur, selang drainase, penggantian cairan, diet
5. Pemberian nutrisi pada pasien post operasi dapat diberikan sesegera setelah operasi(bila keadaan memungkinkan)
6. Komplikasi pasca operasi ginekologi berdasarkan system meliputi system urinaria, system respirasi, system sirkulasi,dan system gastrointestinal.
7. Setelah operasi akan terjadi perubahan perubahan seperti : Kehilangan darah dan air, Dieuresis pascaoperasi agak berkurang. Perlu diketahui bahwa sebagai akibat operasi terjadi penghancuran protein jaringan; bahwa ekskresi kalsium meningkat, sedang pengeluaran natrium dan klorida berkurang.

3.2 Saran
Pada pasien post operasi sebaiknya pemberian nutrisi sesegera setelah operasi lebih diutamakan karena telah dibuktikan memiliki banyak keuntungan untuk mempercepat proses penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA
1. 2008 ilmu kandungan. Jakarta:yayasan bina pustaka sarwono prawihardjo
2. Uliyah musrifatul. 2008, Ketrampilan Dasar Praktek Klinik untuk kebidanan.Jakarta: salemba medika
3. G-Mundy, Chrissie. 2005, Pemulihan Pascaoperasi Caesar (Hal: 32), Jakarta : Erlangga
4. C. Rothrock, Jane. 1999, Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif (Hal: 543), Jakarta: EGC
5. Cameron, John L. 1997, Terapi Bedah Mutakhir (Hal: 576), Jakarta: Binarupa Aksara
6. http://cakmoki86.wordpress.com/2007/08/11/makan-bergizi-pasca-operasi/
7. http://www.kebidanan.net/ginekologi/penatalaksanaan-kelainan-sistem-reproduksi/
8. http://minakomoon-minakoflow.blogspot.com/2010/04/perawatan-pasca-operasi-elektif.html
9. http://yenibeth.wordpress.com/2008/07/01/100/
10. http://www.mer-c.org/penyakit-kulit/246-nyeri-perut-kanan-bawah-pasca-operasi-usus-buntu-normalkah.html
11. http://regional.kompas.com/read/2010/10/12/20164562/Pasca-operasi..Firman.Diawasi.Ketat
12. http://www.detiknews.com/read/2010/02/21/121342/1303711/10/pasca-operasi-kepala-toriq-masih-dipasangi-selang
13. http://belajar-mri.blogspot.com/2010/02/setelah-operasi-hemifacial-spasm.html
14. http://spesialisbedah.com/2008/11/pentingnya-bergerak-pasca-operasi/

Oktober 05, 2010

TUGAS KELOMPOK

SERVICITIS

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Gynekologi

Dosen : Ibu HENY ASTUTIK, S.Kep, Ns., M.Ked.

Disusun Oleh :

KELOMPOK I

Antasi Rahayu (0902100006)

Frisdyah Ismaningrum (0902100012)

Michelle Cynthia (0902100018)

Novitasari Mustika R. (0902100024)

Rista Aditya (0902100030)

Wahyu Kuswidyaningtyas (0902100036)

KEMENTERIAN KESEHATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN MALANG

TAHUN 2010



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini kasus penyakit IMS ( Infeksi Menular Seksual ) tertinggi yaitu, infeksi bakteri vaginosis yang mencapai 80%. Sementara, lainnya sebanyak 20% adalah servicitis, condyloma dan HIV/AIDS (menurut sumber: www.wawasandigital.com). Servicitis merupakan penyakit menular seksual yang biasanya disebabkan Chlamidia trachomatis atau Ureaplasma urelyticum (pada laki-laki), tetapi kadang-kadang disebabkan oleh Trikomonas vaginalis atau virus Herpes simplek.

Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat menjadi lebih parah sehingga sulit dibedakan dengan karsinoma servicitis uteri dalam tingkat permulaan. Oleh sebab sebelum dilakukan pengobatan, perlu pemeriksaan aousan menurut Papanicolaou yang jika perlu diikuti oleh biopsy, untuk kepastian tidak ada karsinoma.

Oleh karena itu, penulis menyusun makalah ini dengan harapan dapat menjelaskan berbagai hal mengenai servicitis sehingga pada akhirnya pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang penyakit ini.

1.2 Tujuan

Selain demi memenuhi tugas mata kuliah gynekologi, makalah ini penulis susun dengan tujuan agar :

1. Mahasiswa dapat mengerti dan menjelaskan tentang definisi servicitis

2. Mahasiswa dapat mengerti tentang patofisiologis servicitis

3. Mahasiswa dapat mengetahui gejala klinis servicitis

4. Mahasiswa dapat mengetahui penegakan diagnose servicitis

5. Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan servicitis

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Cervicitis ialah radang dari selaput lendir canalis cervicalis. Karena epitel selaput lendir cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris maka mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina.

Walaupun begitu canalis cervicalis terlindung dari infeksi oleh adanya lendir yang kental yang merupakan barier terhadap kuman-kuman yang ada didalam vagina. Terjadinya cervisitis dipermudah oleh adanya robekan serviks, terutama yang menimbulkan ectropion.

2.2 Patofisiologis

Serviks uteri adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman kedalam genetalia interna. Dalam hubungan ini pada seorang nulipara dalam keadaan normal canalis servicalis bebas kuman pada seorang multipara dengan ostium uteri eksternum sudah lebih terbuka, batas ke atas dari daerah bebas kuman ialah ostium uteri internum.

Radang pada services uteri bisa terdapat pada portio uteri eksternum dan pada endoservics uteri.

2.3 Gejala klinis

Ø Fluor hebat biasanya kental atau purulen dan kadang-kadang berbau.

Ø Sering menimbulkan erosio (erythropaki) pada portio, yang nampak sebagai daerah yang merah menyala.

Ø Pada pemeriksaan in speculo kadang-kadang dapat dilihat fluor yang purulen keluar dari canalis cervicalis. Kalau portio normal, tidak ada ectropion, maka harus diingat kemungkinan gonorrhoe.

Ø Sekunder dapat terjadi kolpitis dan vulvitis.

Ø Pada cervicitis yang kronis kadang-kadang dapat dilihat bintik putih dalam daerah selaput lendir yang merah, karena infeksi. Bintik-bintik ini disebut ovula Nabothii dan disebabkan olehretensi kelenjar-kelenjar serviks, kerena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka serviks atau karena radang.

2.4 Sebab-sebab

Ø Gonorroe : sediaan hapus dari fluor cerviks terutama purulen.

Ø Sekunder terhadap kolpitis.

Ø Tindakan intra : dilatasi dll.

Ø Alat-alat atau obat kontrasepsi.

Ø Robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion.

2.5 Pembagian Cervicitis

Cervicitis dibedakan menjadi 2, yaitu :

Ø Cervicitis Akut

Cervicities akut dalam pengertian yang lazim ialah infeksi yang diawali di endocerviks dan ditemukan pada gonorrhoe, dan pada infeksi post-abortum atau post-partum yang disebabkan oleh Streptoccocus, Stafilococcus, dan lain-lain. Dalam hal ini, serviks memerah dan bengkak dengan mengeluarkan cairan mukopurulent. Akan tetapi, gejala-gejala pada serviks biasanya tidak seberapa tampak di tengah gejala-gejala lain dari infeksi yang bersangkutan.

Pengobatan dilakukan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut. Penyakitnya dapat sembuh tanpa bekas atau menjadi cervicitis kronis.

Cervicitis akut sering terjadi dan dicirikan dengan eritema, pembengkakan, sebukan neutrofil, dan ulserasi epitel fokal. Endocerviks lebih sering terserang dibandingkan ektocerviks.

Cervicitis akut biasanya merupakan infeksi yang ditularkan secara seksual, umumnya oleh Gonoccocus, Chlamydia trachomatis, Candida albicans, Trichomonas vaginalis, dan Herpes simpleks. Agen yang ditularkan secara non-seksual, seperti E. Coli dan Stafilococcus dapat pula diisolasi dari cerviks yang meradang akut, tetapi perannya tidak jelas. Cervicitis akut juga terjadi setelah melahirkan dan pembedahan.

Secara klinis, terdapat secret vagina purulen dan rasa nyeri. Beratnya gejala tidak terkait erat dengan derajat peradangan.

Ø Cervicitis Kronis

Penyakit ini dijumpai pada wanita yang pernah melahirkan. Luka-luka kecil atau besar pada serviks karena partus abortus memudahkan masuknya kuman-kuman ke dalam endocerviks dan kelenjar-kelenjarnya, lalu menyebabkan infeksi menahun. Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan :

1. Serviks kelihatan normal; hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infiltrasi leukosit dalam stroma endoserviks. Cervicitis ini tidak menimbulkan gejala, kecuali pengeluaran secret yang agak putih-kuning.

2. Disini pada portio uteri sekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-merahan yang tidak dipisahkan secara jelas dari epitel portio disekitarnya, secret yang ditularkan terdiri atas mucus bercampur nanah.

3. Sobekan pada serviks uteri disini lebih luas dan mukosa endosekviks lebih kelihatan dari luar. Mukosa dalam keadaan demikian mudah kena infeksi dari vagina. Karena radang menahun, serviks bisa menjadi hipertrofis dan mengeras ; secret mukopurulen bertambah pendek. Pada proses penyembuhan, epitel tatah dari bagian vaginal portio uteri dengan tanda-tanda metaplasia mendesak epitel torak, tumbuh kedalam stroma dibawah epitel dan menutup saluran kelenjar-kelenjar, sehingga terjadi kista kecil berisi cairan yang kadang-kadang keruh. Limfosit, sel plasma, dan histiosit terdapat dalam jumlah sedang didalam serviks semua wanita. Oleh karena itu, cervisitis kronis sulit ditentukan secara patologis keberadaan kelainan serviks yang dapat dideteksi seperti granularitas dan penebalan seiring dengan meningkatnya jumlah sel radang kronis didalam specimen biopsy dianggap penting untuk memastikan diagnosis cervisitis kronis.

Cervisitis kronis paling sering terlihat pada ostium eksternal dan canalis endoserviks. Hal tersebut dapat terkait dengan stenosis fibrosa saluran kelenjar, yang menyebabkan kista retensi (nabothian). Bila terdapat folikel limfoid pada pemeriksaan mikroskopik, istilah cervisitis folikular terkadang digunakan

Secara klinis, cervisitis kronis sering kali merupakan temuan kebetulan. Namun, cervisitis tersebut dapat menimbulkan secret vaginal, dan beberapa kasus fibrosis yang terdapat pada canalis endoserviks dapat menyebabkan stenosis, yang menimbulkan inferilitas.

2.6 Erosio portionis

Pada cervisitis cronika sering terdapat erosio pada permukaan portio sekitar ostium uteri eksternum. Oleh karena rangsangan luar maka epitel gepeng berlapis banyak dari porsio mati dan diganti dengan epitel silindris canalis cervicalis. Jadi sebetulnya tidak terjadi erosion dalam arti yang sebenarnya tapi pseudo-erosio walaupun lazim disebut erosio ( erosio simplex). Erosio ini nampak sebagai tempat yang merah menyala dan mudah berdarah. Jarang terjadi erosio vera dimana tempat itu tidak mempunyai epitel lagi. Orifisium uteri eksternum merupakan batas antara epitel kaanalis cervikalis dan epitel porsio. Batas ini secara fisiologis berpindah – pindah. Sebelum lahir pada janin berumur 8 bulan epitel gepeng berlapis banyak jauh masuk kedalam kanalis cervicalis. Kemudian batas pindah kebawah dan pada neonatus sering terdapat erosion congenital. Dalam masa kanak-kanak batas berpindah lagi keatas dan pada pubertas turun lagi. Pada masa reproduktif batas dapat berpindah karena adanya infeksi (cervicitis, kolpitis) sehingga terjadi erosi. Tempat erosio juga terkenal infeksidan berwarna merah menyala malahan dapat bergranulasi sehingga mudah berdarah dan menimbulkan perdarahan kontak atau metrorrhagia seperti karsinoma portionis. Pada erosio diketemukan ovula nabothii (erosio papillaris)

2.7 Penatalaksanaan

Ø Antibiotika terutama kalau dapat diketemukan gonococcus dalam secret.

Ø Kalau servicitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam AgNO3 10% dan irigasi.

Ø Servicitis yang tak mau sembuh ditolong operatif dengan melakukan konisasi. Kalau sebabnya ectropion dapat dilakukan plastic atau amputasi

Ø Erosio dapat disembuhkan dengan obat keras seperti AgNO3 10 % atau albothyl yang menyebabkan nekrose epitel silindris dengan harapan bahwa kemudian diganti dengan epitel gepeng berlapis banyak.

BAB III

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

· Servicitis adalah radang dari selaput lendir canalis cervicalis. Karena epitel selaput lendir cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris maka mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina.

· Sebab-sebab servicitis: Gonorroe : sediaan hapus dari fluor cerviks terutama purulen, sekunder terhadap kolpitis, tindakan intra : dilatasi dll, alat-alat atau obat kontrasepsi, robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion.

· Servicitis dibagi menjadi 2 yaitu: servicitis akut dan kronis.

4.2 Saran

· Sebagai pencegahan terkena penyakit servicitis dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan alat genitalia, dengan cara membasuh genetalia dengan sabun dan air dari satu arah yaitu dari depan kebelakang agar bakteri yang ada di anus tidak masuk pada daerah genetalia.

· Tidak bergonta-ganti pasangan dalam berhubungan seks

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo.

Sarwono. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo.

Universitas Padjadjaran Bandung. 1981. Ginekologi. Bandung: Elstar Offset.

www.wawasandigital.com