Menuntut Ilmu atau Menikah
Menuntut ilmu sangat penting bagi seorang lelaki, tapi itu
setelah kebutuhan asasinya terpenuhi. Sementara menikah adalah fitrah, naluri,
dan penyehat jiwa maupun raga. Menikah adalah kebutuhan individu untuk masa
kini dan masa depannya. Orang yang pintar tentu takkan mendahulukan kebutuhan
sekunder daripada kebutuhan primernya.
Jika seseorang tidak mungkin menggabung antara menuntut ilmu
dengan menikah dan terpaksa memilih salah satunya, maka yang terbaik untuk masa
kini dan masa depannya adalah menikah. Setelah menikah, dia harus berjuang
untuk melanjutkan proses pendidikannya. Hal ini memang berat, tapi bukan
sesuatu yang mustahil.
Banyak factor yang membuat anak perempuan harus lebih cepat
dinikahkan daripada anak laki-laki. Di antaranya, usia terbaik untuk melahirkan
anak adalah antara usia pubertas hingga usia 25 tahun. Setelah umur tersebut,
kehamilan akan lebih sulit dan keturunannya akan lebih lemah. Anak laki-laki
dapat meminang dan menikah kapan saja, sedangkan anak gadis biasanya tidak
meminang, tetapi menunggu dipinang. Karena itu, jika pada usia muda seorang
gadis menolak pemuda yang meminangnya, biasanya dia akan ketinggalan kereta
pernikahan. Setelah dia menyelesaikan pendidikan, tidak ada pemuda melamarnya.
Pembaca majalah wanita pasti mendapati banyak kisah tentang anak gadis yang
lebih meprioritaskan pendidikan daripada pernikahan, lalu setelah dia
merampungkan pendidikan, tidak sorang pun pemuda yang dating meminang.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ali,
janganlah engkau menunda-nunda tiga hal; Shalat jika sudah tiba waktunya,
pengurusan jenazah jika sudah ada mayat, dan menikahkan anak gadis jika sudah
dilamar pemuda yang mampu.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim)
Beliau bersabda,
“Wahai para pemuda, apabila kamu sudah memiliki kemampuan untuk menikah,
menikahlah. Sebab, hal itu dapat menjaga pandangan mata dan kehormatanmu.
Sedangkan bagi yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa, karena puasa akan
menjadi perisai baginya.” (HR. Al-Bukhari)
Kewajiban Pemuda
Sebelum Menikah
Bagaimanapun level pengetahuan dan apapun profesimu, engkau
harus mempelajari apa saja yang kelak menjadi hak dan kewajibanmu terhadap
istri, cara berinteraksi dengan istri berdasarkan pengetahuan tentang karakter
dan struktur rasional dan emosionalnya, cara memasuki relung hati istri dan
memahami mentalitas dan moralitasnya, cara mengembangkan aspek-aspek positif
istri dan mengikis aspek-aspek negatifnya, dst.
Semua itu takkan engkau peroleh dari tradisi yang berdasarkan
dugaan semata-mata, yang boleh jadi sesuai dengan agama dan mungkin tidak, atau
dari nasehat keluarga dan teman-teman yang terkadang berakibat negative
terhadap kehidupan rumah tangga yang berbahagia
Cara yang tepat untuk memperoleh kebahagiaan rumah tangga
adalah memberikan komitmen penuh terhadap ajaran Islam tentang tata cara
berinteraksi dengan istri. Inilah jalan terpendek yang dapat mengantarkanmu
kepada kebahagiaan rumah tangga dengan cepat dan selamat. Kian kuat komitmenmu
terhadap manhaj Allah dalam berinteraksi dengan istri, kian dekat pula dirimu
dengan kebahagiaan rumah tangga yang sejati.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Jika seorang laki-laki ataupun perempuan beramal shalih
dalam keadaan beriman, maka dia akan Kami berikan kehidupan yang baik.”
(An-Nahl: 97)
Dan kian jauh dirimu dari manhaj Allah, maka kian dalam
kesengsaraanmu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang
berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan menjalani kehidupan yang sempit.”
(Thaha: 124)
Engkau harus membaca buku-buku yang mengulas kehidupan
keluarga bahagia agar engkau dapat menyiapkan mental untuk bergaul dengan istri
dengan cara yang diridhai Allah.
Jangan menikah atas dasar keangkuhan, kesombingan, dan
kepongahan, “Aku ini laki-laki. Jika istriku sudah tidak menarik, aku akan
menceraikannya, lalu aku mencari wanita yang lain.”
Jika engkau bersikeras memasuki bahtera rumah tangga dengan
mentalitas itu, dengarkan nasehatku, “Jangan kau siksa gadis muslimah. Sebab,
begitu nafsu syahwatmu terpenuhi, engkau langsung menceraikannya,
menyengsarakannya, dan membuat pelbagai masalah baginya.”
Sikap itu adalah penanda sempitnya pengetahuan, pemahaman,
kesadaran, dan pengertianmu tentang hakekat pernikahan dan relasi suci antara
dirimu dengan istrimu yang dibangun di atas penghormatan terhadap kemanusiaan
dan kemuliannya. Istrimu juga manusia yang punya identitas dan kepribadian,
bukan budak yang menunduk, mengabdi kepadamu, dan menjamin kesenanganmu.
