bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Mei 22, 2013

Share: Untukmu Yang Akan Menikah & Telah Menikah ( Menuntut Ilmu atau Menikah )


Menuntut Ilmu atau Menikah


Menuntut ilmu sangat penting bagi seorang lelaki, tapi itu setelah kebutuhan asasinya terpenuhi. Sementara menikah adalah fitrah, naluri, dan penyehat jiwa maupun raga. Menikah adalah kebutuhan individu untuk masa kini dan masa depannya. Orang yang pintar tentu takkan mendahulukan kebutuhan sekunder daripada kebutuhan primernya.

Jika seseorang tidak mungkin menggabung antara menuntut ilmu dengan menikah dan terpaksa memilih salah satunya, maka yang terbaik untuk masa kini dan masa depannya adalah menikah. Setelah menikah, dia harus berjuang untuk melanjutkan proses pendidikannya. Hal ini memang berat, tapi bukan sesuatu yang mustahil.

Banyak factor yang membuat anak perempuan harus lebih cepat dinikahkan daripada anak laki-laki. Di antaranya, usia terbaik untuk melahirkan anak adalah antara usia pubertas hingga usia 25 tahun. Setelah umur tersebut, kehamilan akan lebih sulit dan keturunannya akan lebih lemah. Anak laki-laki dapat meminang dan menikah kapan saja, sedangkan anak gadis biasanya tidak meminang, tetapi menunggu dipinang. Karena itu, jika pada usia muda seorang gadis menolak pemuda yang meminangnya, biasanya dia akan ketinggalan kereta pernikahan. Setelah dia menyelesaikan pendidikan, tidak ada pemuda melamarnya. Pembaca majalah wanita pasti mendapati banyak kisah tentang anak gadis yang lebih meprioritaskan pendidikan daripada pernikahan, lalu setelah dia merampungkan pendidikan, tidak sorang pun pemuda yang dating meminang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ali, janganlah engkau menunda-nunda tiga hal; Shalat jika sudah tiba waktunya, pengurusan jenazah jika sudah ada mayat, dan menikahkan anak gadis jika sudah dilamar pemuda yang mampu.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim)

Beliau bersabda,  “Wahai para pemuda, apabila kamu sudah memiliki kemampuan untuk menikah, menikahlah. Sebab, hal itu dapat menjaga pandangan mata dan kehormatanmu. Sedangkan bagi yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa, karena puasa akan menjadi perisai baginya.” (HR. Al-Bukhari)

Kewajiban Pemuda Sebelum Menikah

Bagaimanapun level pengetahuan dan apapun profesimu, engkau harus mempelajari apa saja yang kelak menjadi hak dan kewajibanmu terhadap istri, cara berinteraksi dengan istri berdasarkan pengetahuan tentang karakter dan struktur rasional dan emosionalnya, cara memasuki relung hati istri dan memahami mentalitas dan moralitasnya, cara mengembangkan aspek-aspek positif istri dan mengikis aspek-aspek negatifnya, dst.

Semua itu takkan engkau peroleh dari tradisi yang berdasarkan dugaan semata-mata, yang boleh jadi sesuai dengan agama dan mungkin tidak, atau dari nasehat keluarga dan teman-teman yang terkadang berakibat negative terhadap kehidupan rumah tangga yang berbahagia

Cara yang tepat untuk memperoleh kebahagiaan rumah tangga adalah memberikan komitmen penuh terhadap ajaran Islam tentang tata cara berinteraksi dengan istri. Inilah jalan terpendek yang dapat mengantarkanmu kepada kebahagiaan rumah tangga dengan cepat dan selamat. Kian kuat komitmenmu terhadap manhaj Allah dalam berinteraksi dengan istri, kian dekat pula dirimu dengan kebahagiaan rumah tangga yang sejati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Jika seorang laki-laki ataupun perempuan beramal shalih dalam keadaan beriman, maka dia akan Kami berikan kehidupan yang baik.” (An-Nahl: 97)

Dan kian jauh dirimu dari manhaj Allah, maka kian dalam kesengsaraanmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (Thaha: 124)

Engkau harus membaca buku-buku yang mengulas kehidupan keluarga bahagia agar engkau dapat menyiapkan mental untuk bergaul dengan istri dengan cara yang diridhai Allah.

Jangan menikah atas dasar keangkuhan, kesombingan, dan kepongahan, “Aku ini laki-laki. Jika istriku sudah tidak menarik, aku akan menceraikannya, lalu aku mencari wanita yang lain.”

Jika engkau bersikeras memasuki bahtera rumah tangga dengan mentalitas itu, dengarkan nasehatku, “Jangan kau siksa gadis muslimah. Sebab, begitu nafsu syahwatmu terpenuhi, engkau langsung menceraikannya, menyengsarakannya, dan membuat pelbagai masalah baginya.”

Sikap itu adalah penanda sempitnya pengetahuan, pemahaman, kesadaran, dan pengertianmu tentang hakekat pernikahan dan relasi suci antara dirimu dengan istrimu yang dibangun di atas penghormatan terhadap kemanusiaan dan kemuliannya. Istrimu juga manusia yang punya identitas dan kepribadian, bukan budak yang menunduk, mengabdi kepadamu, dan menjamin kesenanganmu.