bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

April 06, 2016

Yes, here I am, Indonesia

Indonesia

Tanah kelahiranku, tanah tempat orangtuaku singgah, tanah surga (katanya), tanah tempat aku bertemu jodohku (InsyaAllah, Aamiin).

Tak akan ada yang pernah tahu tentang semua ini. Allah mengantarku kembali kesini, memberiku kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtuaku. Setelah sekian lama, dari benua yang berbeda, di setiap bangun tidur aku selalu berfikir, masih bernafaskah kedua orangtuaku, bagaimana keadaannya, bagaimanakah perasaannya. Oh Allah, aku selalu cemas jauh dari mereka, padahal ada sisi lain yang sedang aku kejar. Ya, cita-citaku sedari SMP.

Aku terkejut dan sempat mengalami cultural shock di tribulan awal. Kesalahan pengucapan bahasa, susunan kata-kata. Ahh, okey, mereka bisa memahami. Sampai-sampai ibuku rela membeli bahan makanan ekstra demi aku. Roti dan margarin bertabur meses jadi andalanku.

Baiklah, itu sudah beberapa waktu lalu. Saat ini aku fokus pada apa yang akan terjadi di depanku.

Dunia tak selalu menjadi apa yang kau pikirkan kawan! Tapi kita bisa memintanya kepada Allah. Dan doa-doa selalu kupanjatkan padaNya. Meminta dan merintih, semoga semua akan baik-baik saja.

Allah membimbingku menepati janjiku,
"Ya Allah, kalau aku berhasil ke Belanda, suatu saat aku akan mengabdi di pelosok desa"
Exactly, hampir 1 bulan setelah kepulanganku di Indonesia. Allah memberi kesempatan untuk mengabdi menjadi Bidan di sebuah desa yang jauh, desa yang bahkan ba'da Maghrib sudah sepi dimana-mana, sunyi, tenang, damai. Iya, memang begitu suasananya.

Tapi tidak dengan hatiku, ini bedanya. Di Eropa, my business is not your business. Disini, your business is my business. Ahh, tidak semua begitu kok. Tapi memang ada yang mengganjal waktu itu. 10 bulan saja aku bertahan disana. Bagaimana tidak? Aku yang merasa pada dua bulan akhir berturut-turut ada kejadian yang "unusual" terjadi. Gunting episiotomi yang tiba-tiba terbakar di tempat pembakaran sampah, lalu di bulan akhir ada perban roll serta cooching yang juga terbakar di tempat pembakaran sampah. What? This is really unsual.

Sekian lama aku belajar, di tempat-tempat yang cukup favorit, dimana tingkat ketelitianku harus diuji. Kuliah yang juga menuntut tingkat ketelitian yang tinggi. Bekerja bersama para expart luar negeri di Jakarta dan Amsterdam yang juga menuntut kecermatan dan kedisiplinan tinggi. Kemudian terjadi hal-hal kecil dalam dua bulan berturut-turut yang membuatku bertanya-tanya. Bagaimana kecerobohan ini terjadi? Sungguh aku menolak tajam, tidak! Aku benar-benar ingat, aku tak pernah membuangnya. Sungguh Allah yang tahu akan kesaksianku, dan aku tak akan menuduh siapapun.

Hampir tiga minggu setelah hal itu terjadi, Allah memberiku rezeki di tempat lain. Sebuah Klinik Swasta, tepat di tengah Kota Malang. Aku bekerja dengan baik-baik, begitupun ketika berpamitan juga dengan baik-baik. Ayah, Ibu, Paman, Bibi serta adikku turut berpamitan atas kepergianku dari sana. Ada perasaan lega, haru, tangis dan yang lain-lain bercampur disana. Ucapan terimakasih pada pimpinan tempatku bekerja juga tak lupa kami ucapkan. Sungguh beliau pimpinan yang baik. Selalu kusebut namanya dalam do'aku. Assistant rumah tangga beliau juga baik, sebisa mungkin aku bersilahturahmi pada mereka. Juga sebatas say "Hello" pada rekan kerjaku disana. Setelah kepergianku, masih ada dua orang yang bekerja disana. Semoga kalian sukses, dan Allah akan melancarkan semua tentang tujuan masing-masing.

Kota Malang, tak perlu waktu lama, 4 bulan di Klinik yang baru aku sudah bisa semua prasat. Mulai pertolongan persalinan mandiri, heacting, drip, IUD, infus, inject, dsb. Mungkin ini jawaban Allah dan hikmah atas semua hal yang terjadi di tempat kerja lamaku. Aku bersyukur sekali. Aku bahagia, sungguh Allah selalu memberi jalan kepada hambaNya yang selalu meminta. Alhamdulillah.. Ucapku bersyukur tiada tara.

Ohh.. Jodoh..
Allah tak lupa memberiku jodoh, yang selama ini selalu kupinta. Jodoh orang Indonesia, yang mampu menjadi Imam duniaku, juga akhiratku. Aku mengenalnya sejak lama, tak pernah kusangka beliau menjadi calon suamiku sekarang. Tak lama setelah aku pindah di tempat kerja yang baru, beliau pun datang bersama keluarganya. Meminangku atas ridho Allah, atas ridho Ayah Ibunya. Acara sakral yang cukup haru, tak terasa kuteteskan air mata. Ibunya memasangkan cincin di jariku.

Sosoknya sederhana, low profil, teman yang baik, sahabat yang baik, kakak yang baik. Ya Allah,.. terimakasih,.. aku kagum padanya. Pada beliau yang selalu membimbingku sholat tepat waktu. Mengajariku mengutamakan sholat berjamaah, yang dengan sabar pula membiasakan aku untuk sholat dhuha dan mengaji, yang mengingatkan aku untuk selalu menutup auratku.

Aku masih ingat perjumpaan awal kami, saat itu aku masih SMA kelas tiga, masih belum berhijab seperti saat ini, Beliau sosok yang diam, terlihat serius dan pintar, sempat berfikir, "Oh, mungkin dia 'jaim'?". Tapi aku tak pernah mengenalnya lebih jauh, karena setiap selesai kelas, aku langsung pulang. Tak pernah aku ikut berkumpul walau hanya untuk berbincang bersama teman-teman lainnya.

Kami pun berjalan sendiri-sendiri, hampir sering bertemu sebagai teman sekelas biasa. Mendaftar SNMPTN bersama-sama. Jalan-jalan ke Toko Gramedia bersama-sama. Ikut ujian SNMPTN bersama-sama. Tentu tidak hanya berdua, cukup banyak teman kami yang turut ikut bersama.

Di hari pengumuman, aku tahu beliau diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Begitupun juga aku, ya..awalnya kamupus kami berseberangan saja. Tapi Allah berkehendak lain..

Sampai suatu saat dia datang kerumah orangtuaku bersama teman lainnya. Saat itu mendadak sekali, ibuku hanya masak makanan yang sederhana. Nasi putih, lodeh sayur terong dan tempe goreng. Dipersilahkan oleh ibuku untuk makan siang dahulu. Kemudian kami berbincang bersama-sama di ruang tamu.

"Aku nang Jakarta, ketrimo kuliah ning kono" red "Aku ke Jakarta, diterima kuliah disana" ceritanya sesaat ketika duduk di sofa coklat dekat pintu ruang tamuku.

Aku terkejut sejenak, "Lho? Bukannya kuliah di Malang ya?". Bahkan aku tak pernah tahu beliau mendaftar kuliah di tempat lain. Sempat beberapa lama kami berbincang, ada ayah, ibu juga temanku yang lain. Tak ada adikku, sepertinya saat itu adik-adikku sedang sekolah.

Di hampir saat-saat beliau akan pamit pulang, aku meminta bantuannya untuk instalasi sebuah program di laptopku. Masih teringat jelas jaman itu susah untuk mendapat jaringan WiFi. Kami pun pergi ke Pasar Lawang, di salah satu tempat penyedia WiFi. Ayahku tak melepasku begitu saja. Aku dibonceng ayah, sedangkan beliau naik motornya sendiri. Iya, Ayahku selalu menjagaku. Wajar saja sampai lulus SMA aku tak pernah punya pacar. Saat ini, justru aku sangat bersyukur, karena aku tak pernah pacaran di masa-masa SMA.

Setelah itu kami tak pernah bertemu. Hanya lewat HP seluler saja. Aku tinggal di asrama Bidan selama tiga tahun, begitupun juga beliau yang melanjutkan pendidikannya di Jakarta selama tiga tahun juga. Aku masih ingat jelas, waktu wisuda kami hanya selisih 6 hari. Disini aku wisuda tepat tanggal 4 Oktober 2012 lalu beliau tanggal 10 Oktober 2012.

Tanggal 8 Oktober 2012 aku bertolak dari Juanda ke sebuah bandara lokal di Kota Bandung. Aku mulai mengejar cita-citaku disana. Menjalani serangkaian proses untuk menuju Belanda.

Kusempatkan datang pada wisudanya, SICC 10 Oktober 2016 di Kota Bogor. Sebuah bouquet bunga Cruissant kuning dan Mawar kubawa untuknya. Kusaksikan proses wisudanya dari sebuah layar di ruangan khusus pengunjung. Selamat! Aku memang sengaja datang, fikirku, ahh, mungkin kita tidak bertemu lagi mas, aku akan pergi ke Belanda.

Beliau menemuiku di ruangan itu, setelah aku memberikan bouquet aku pergi dan berpamitan padanya. Sejenak aku mampir untuk makan, karena pagi-pagi sekali berangkat dari Bandung, aku lupa belum sarapan.

Tak lama ada SMS masuk, "Tadi belum foto sama aku" tulisnya. Allah benar-benar membuatku mampir di kantin itu agar bisa berfoto bersama sahabatku itu, jika tidak, aku yakin pasti aku sudah dalam perjalanan ke Bandung.

Lalu setelah foto bersama dan sholat dzuhur, aku berpamitan. Sempat ada teman beliau yang nyeletuk, segera saja aku jelaskan, "Bukan-bukan, aku adiknya, bukan pacarnya" sambil memerah malu. Terakhir kali aku dengar dari beliau, teman yang memfoto kami masih ingat padaku, mas "G" terimakasih bantuannya, jika tidak, kami tak punya kenangan sebagai sahabat baik. Sekarang mas "G" sudah menikah, terang beliau padaku.

Ya.. Lagi-lagi kami berpisah jauh, sahabat yang terpisah di benua yang berbeda. Yang hampir untuk beberapa lama tak pernah ada komunikasi.

Masuk bulan ke-4 di Amsterdam, dimana hatiku benar-benar kosong, kuserahkan pada Rabbku. Entah siapa jodohku, barangkali aku bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah disana aku ikhlas. Dalam setiap sujud istikharahku aku selalu memohon yang terbaik untukku dan keluargaku.

Desember 2013, tiba-tiba sebuah nomor Indonesia masuk dalam message di HPku. "Dek, gmn kabarnya?" tulisnya singkat.
Berfikir sejenak, entah bagaimana beliau tahu nomor Belandaku, sempat kuingat, oh iya.. ketika awal aku sampai di Amsterdam, aku sempat mengabarinya via message di facebook, kutinggalkan juga nomor baruku disana.

Tapi bukan itu yang ada di fikirku saat itu. Sungguh keras dalam benakku dan bertanya-tanya pada Allah dalam setiap doaku. Kira-kira dua minggu sebelum beliau mengirimkan SMS padaku, aku sempat memimpikan beliau. Kulihat tegap beliau berdiri membawa selembar kertas putih diantara kerumunan banyak orang, mungkin sedang membacakan sebuah pengumuman. Kupanggil-panggil "Mas..mas..!" sambil berusaha menyeruak diantara kerumunan. Sesaat aku terbangun dari tidurku lalu menangis. Ada apa ya dengan beliau? Aku hanya berdoa pada Allah.

Sungguh sebaik-baiknya pengatur adalah Allah, kami dipertemukan dalam suatu hubungan khitbah. Yang tak pernah disangka-sangka. Atas segala hal yang pernah terjadi. Masa lalu kami adalah milik masing-masing. Mulai saat ini, masa depan kami adalah milik bersama. Berdoa bersama, bekerja bersama, dan saling men-support satu sama lain.

Allah mengajari kami apa arti kesabaran, setelah khitbah pun kami hidup di pulau yang berbeda, hanya waktu yang membedakan. Dahulu waktu kami terpaut 6 jam, saat ini hanya 1 jam saja. Tetap syukur yang terlantun, walau jarak terpisah jauh, beliau tak pernah lelah membimbingku hingga sekarang. Menjaga emosiku, mengingatkan baktiku pada orangtua, mengarahkan adik-adikku, dan mngajari aku bagaimana menjadi istri yang sholehah kelak.

Ya Rabb.. Semoga ini adalah jawaban atas segala do'aku. Semoga engkau memberiku Imam dunia akhirat di sepanjang hayatku. Sungguh hanya Engkau Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui atas segala masa depanku.

Kamis, 07 April 2016 13:37:45 ~ Kota Lawang, kuselesaikan tulisan ini tanpa draft, tepat di meja depan kamarku. Semoga kisah ini mengingatkan kita di masa depan. Menjaga sebuah hubungan yang semata-mata diniati ibadah kepada Allah SWT. Aamiin

teruntuk calon suamiku disana, semoga Allah selalu menjaga Mas, Aamiin