MEMUDAHKAN PERNIKAHAN
Untuk mengantisipasi gejala
muda-mudi yang lambat menikah, pemerintah beserta pelbagai organisasi dan
lembaga social harus berinisiatif untuk segera mengkajinya secara aplikatif dan
praktis, sehingga solusi yang tepat untuknya dapat segera diimplementasikan,
seperti memudah-kan mahar, memudahkan tempat tinggal, mengistimewakan pemberian
pinjaman untuk keperluan pernikahan dan perumahan pasagan baru, menghapus citra
buruk poligami, dan membentuk lembaga-lembaga social untuk membantu suami
istri.
Bisikan yang Terngiang-ngiang di Telinga Pemuda Muslim
Wahai pemuda muslim, jika engkau
merasa hasratmu untuk menikah sudah sangat mendesak, maka tengadahkanlah
tanganmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sembari berdoa, dengan tekad bulat,
niat tulus, kepasrahan yang tinggi, dan kepercayaan yang penuh kepada-Nya, agar
Dia memenuhi hasratmu itu dengan segera. Ketahuilah, kekuasaan Allah tidak
dapat dibandingkan dengan kemampuan manusia yang terbatas.
Tanggalkanlah daya upayamu
sendiri, serahkan hal ini kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jangan
mempertimbangkan aspek-aspek material semata. Sebab, menilai masalah ini hanya dengan
mempertimbengkan material hanya akan melelahkanmu dan menyia-nyiakan masa mudamu
dalam perkara yang mungkin terjadi dan mungkin tidak, karena hal ini merupakan
kegaiban yang hanya diketahui oleh Allah.
Pasrahkan diri kepada Allah
sambil melaksanakan semua proses duniawi, seperti mengatur masalah financial
dengan bijak dan cerdas dan tidak memboroskan uang dalam hal-hal yang dapat
engkau tinggalkan. Sebab, penghalang utama bagi para pemuda dari pernikahan
adalah “uang”, khususnya karena saat ini peluang kerja semakin sempit,
sedangkan harga-harga semakin melambung, setinggi langit.
Obsesi sebagian anak muda
sekarang adalah memiliki mobil baru, menenteng HP – bahkan, tidak sedikit anak
muda yang menggantinya setiap hari, mengikuti mode dan tren pakaian,
mengantongi rokok, membawanovel gaul yang mengikuti perkembangan zaman, bermain
kartu atau menongkrongi TV sepanjang malam, menggoda anak-anak gadis lewat
telepon atau SMS, tukar menukar kaset atau CD lagu dan film, lalu tidur dari
pagi hingga menjelang sore.
Bukankah realitas ini telah
melanda banyak pemuda muslim sekarang? Banyak diantara mereka yang putus
sekolah, lalu mulai mencari kerja. Jika dia mendapat pekerjaan, jarang sekali
yang dapat bertahan lama. Dia berdalih, pekerjaan itu terlalu berat dan
melelehkan, atau honornya terlalu kecil dan tidak mencukupi. Mereka memegang
filsafat setan, “Belanjakanlah segera uang di sakumu, pasti engkau akan dapati
ganti uang saku dari Tuhanmu.”
Jika masalah ppernikahan
disinggung-singgung di depannya atau dia membicarakan masalah itu dengan
teman-temannya, Anda akan melihatnya mengeluh dan menyesali nasib, lalu
membual. ‘jika Allah memberiku rezeki, aku pasti menikah hari ini juga. Tidak
menunggu besok, apalagi lusa. Tapi, saying sekali, aku tidak beruntung.” Atau,
jika di dalam hatinya masih ada sedikit kebaikan, dia akan berdoa kepada Allah
dengan kata-kata orang yang lalai dan malas, “Ya Allah, beri aku rezeki yang
banyak, supaya aku dapat menikah.”
Apakah pemuda dengan mentalitas
dan perilaku menyimpang itu benar-benar ingin melindungi kehormatan diri?
Apakah dia benar-benar mengusahakan pernikahan yang halal? Apakah dia termasuk
salah satu dari tiga kelompok yang pasti ditolong Allah, yang salah satunya
adalah orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan, ataukah perbuatannya
bertentangan dengan perkataannya?
Karena itu, saya katakana sekali
lagi, “Mintalah inayah Allah. Jangan lemah, ketahuilah, sedikit uang akan
menjadi benyak jika terus dikumpulkan. Dan, sedikit uang yang halal lebih baik
daripada uang yang banyak tapi haram dan tidak berkah. Ketahuilah, di balik
kesulitan terdapat kemudahan. Giatlah. Buang kemalasan dan kelambanan. Jadilah
orang yang bertekad kuat, ulet, dan gigih. Yakinlah bahwa Allah takkan lupa
member pahala kepada orang yang berbuat baik.”
November 12, 2012 (N.Mustika.R)
Jakarta, 10:39 am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar