bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

November 21, 2012

Share: Untukmu Yang Akan Menikah & Telah Menikah (Penderitaan dan Pengharapan)




PENDERITAAN dan PENGHARAPAN

Banyak pemuda yang dilanda kecemasan, kebingungan, dan pertentangan batin akibat realitas masyarakat zaman sekarang yang menyedihkan, di mana wanita-wanita yang mengobral aurat terlihat di semua tempat, hal-hal yang membangkitkan birahi tersebar luas, dan cara-cara pemuasan birahi secara haram mudah dilakukan; di mana hubungan antara pria dengan wanita telah menjadi sesuatu yang wajar, dengan dalih pertemanan di sekolah, kemitraan di tempat kerja, atau pentingnya menjalin cinta sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, serta hal-hal lain yang bertentangan dengan perintah agama untuk menjaga pandangan dan kehormatan diri, menjauhi keharaman dan segala penyebabnya, seperti berdua-duaan dengan lawan jenis, percampuran antara laki-laki dengan perempuan (ikhtilath) dan hubungan yang tidak sesuai dengan syariat.

Apa yang harus dilakukan pemuda yang terus menerus dibujuk oleh syahwat di mana saja berada, di jalan, di televise, di kampus, atau di tempat lain? Bagaimana dia dapat menyelamatkan diri di tengah realitas masyarakat yang sangat menydihkan ini?

Jalan keluar terbaik dari semua itu adalah berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Berikut ini beberapa kiat yang dapat membantu Anda untuk melakukan hal tersebut:
Jauhilah bujukan dan godaan sekuat tenaga

Jaga dirimu dengan rajin mengerjakan sholat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an

Rajinlah berpuasa, sebab puasa dapat menenangkan syahwat, seperti dijelaskan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Puasa itu akan menjadi perisai baginya.”

Sibukkan diri dengan hobby yang positif. Jangan sampai ada waktu kosong atau duduk sendirian tanpa perbuatan yang produktif

Seringlah berdoa pada waktu-waktu mustajab, agar Allah membantumu dalam menjaga kehormatan diri sebelum menikah dan menganugrahimu istri salehah

Cari teman yang baik yang membantumu untuk selalu taat kepada Allah dan jauh dari maksiat
Semakin teguh engkau menjaga kehormatan diri dari hubungan yang haram sebelum menikah, semakin besar rasa nikmat yang engkau rasakan dari pernikahan yang halal. Sebab, orang-orang yang terjerumus ke dalam perzinaan sebelum perkawinan, akan selalu dirundung kesusahan. Dia didera perang batin, apakah akan terus hidup dalam pelukan wanita yang keji, mahir merayu, menggoda, bermain cinta, sekaligus genit dan tidak memiliki rasa malu, ataukah akan hidup dengan wanita yang menjaga kehormatan dan kesucian diri, namun tidak terampil merayu, memikatm dan menggoda kecuali secara teoritis saja? Jika dia sudah membanding-bandingkan kedua jenis wanita itu, berarti dia sudah terjerumus ke kubangan dosa yang dalam.

Yang dapat menyelamatkanmu dari perang batin dan dilemma itu hanya satu hal, yaitu memasuki bahtera ruamh tangga dengan niat yang suci, iffah, dan taubat nasuha.

Ajari istrimu hal-hal yang kau sukai. Ini bukan aib dan tidak memalukan. Ketahuilah, gairah dan hasrat wanita nyaris sama, jika mereka berada di lingkungan yang sama. Wanita tidak berbeda satu dengan yang lainnya, kecuali dari segi bahwa seorang wanita memperlihatkan gairah dan hasratnya, sedangkan wanita yang lain menyembunyikannya.

Engkau takkan memahami apa artinya ketenangan mental, emosional, dan seksual, meskipun engkau telah menjalin asmara dengan ratusan gadis. Hal ini hanya dapat kau temukan di dalam naungan pernikahan yang sah secara syar’I bersama istri yang kau cintai dan mencintaimu. Tahun-tahun yang kau lalui tanpa pernikahan, layak dihapus dari daftar tahun-tahun kehidupanmu yang membahagiakan.

Problem dan Solusi
Beberapa orang mengatakan, pemudahan dan peringanan mahar, akan membuat para pemuda malas menjaga pernikahan dan akan berani menjatuhkan talak secara sembarangan kepada istri karena sebab-sebab yang sepele, lalu menikah lagi.

Solusi terbaik untuk problem ini adalah mahar tetapdibuat ringan. Tapi, suami yang menceraikan istri tanpa sebab syar’I harus dikenakan sanksi membayar jumlah uang yang besar kepada istrinya itu. Dengan demikian, ajaran Nabi Sahallallahu Alaihi wa Sallam untuk meringankan mahar dapat kita jalankan, dan pada waktu yang sama kita dapat menjamin bahwa para suami takkan berani menelantarkan istri atau menceraikannya tanpa sebab yang kuat.

November 12, 2012 (N.Mustika.R)
Jakarta 11:46

November 20, 2012

Share: Untukmu Yang Akan Menikah & Telah Menikah (Memudahkan Pernikahan)



MEMUDAHKAN PERNIKAHAN

Untuk mengantisipasi gejala muda-mudi yang lambat menikah, pemerintah beserta pelbagai organisasi dan lembaga social harus berinisiatif untuk segera mengkajinya secara aplikatif dan praktis, sehingga solusi yang tepat untuknya dapat segera diimplementasikan, seperti memudah-kan mahar, memudahkan tempat tinggal, mengistimewakan pemberian pinjaman untuk keperluan pernikahan dan perumahan pasagan baru, menghapus citra buruk poligami, dan membentuk lembaga-lembaga social untuk membantu suami istri.

Bisikan yang Terngiang-ngiang di Telinga Pemuda Muslim
Wahai pemuda muslim, jika engkau merasa hasratmu untuk menikah sudah sangat mendesak, maka tengadahkanlah tanganmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sembari berdoa, dengan tekad bulat, niat tulus, kepasrahan yang tinggi, dan kepercayaan yang penuh kepada-Nya, agar Dia memenuhi hasratmu itu dengan segera. Ketahuilah, kekuasaan Allah tidak dapat dibandingkan dengan kemampuan manusia yang terbatas.

Tanggalkanlah daya upayamu sendiri, serahkan hal ini kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jangan mempertimbangkan aspek-aspek material semata. Sebab,  menilai masalah ini hanya dengan mempertimbengkan material hanya akan melelahkanmu dan menyia-nyiakan masa mudamu dalam perkara yang mungkin terjadi dan mungkin tidak, karena hal ini merupakan kegaiban yang hanya diketahui oleh Allah.

Pasrahkan diri kepada Allah sambil melaksanakan semua proses duniawi, seperti mengatur masalah financial dengan bijak dan cerdas dan tidak memboroskan uang dalam hal-hal yang dapat engkau tinggalkan. Sebab, penghalang utama bagi para pemuda dari pernikahan adalah “uang”, khususnya karena saat ini peluang kerja semakin sempit, sedangkan harga-harga semakin melambung, setinggi langit.

Obsesi sebagian anak muda sekarang adalah memiliki mobil baru, menenteng HP – bahkan, tidak sedikit anak muda yang menggantinya setiap hari, mengikuti mode dan tren pakaian, mengantongi rokok, membawanovel gaul yang mengikuti perkembangan zaman, bermain kartu atau menongkrongi TV sepanjang malam, menggoda anak-anak gadis lewat telepon atau SMS, tukar menukar kaset atau CD lagu dan film, lalu tidur dari pagi hingga menjelang sore.

Bukankah realitas ini telah melanda banyak pemuda muslim sekarang? Banyak diantara mereka yang putus sekolah, lalu mulai mencari kerja. Jika dia mendapat pekerjaan, jarang sekali yang dapat bertahan lama. Dia berdalih, pekerjaan itu terlalu berat dan melelehkan, atau honornya terlalu kecil dan tidak mencukupi. Mereka memegang filsafat setan, “Belanjakanlah segera uang di sakumu, pasti engkau akan dapati ganti uang saku dari Tuhanmu.”

Jika masalah ppernikahan disinggung-singgung di depannya atau dia membicarakan masalah itu dengan teman-temannya, Anda akan melihatnya mengeluh dan menyesali nasib, lalu membual. ‘jika Allah memberiku rezeki, aku pasti menikah hari ini juga. Tidak menunggu besok, apalagi lusa. Tapi, saying sekali, aku tidak beruntung.” Atau, jika di dalam hatinya masih ada sedikit kebaikan, dia akan berdoa kepada Allah dengan kata-kata orang yang lalai dan malas, “Ya Allah, beri aku rezeki yang banyak, supaya aku dapat menikah.”

Apakah pemuda dengan mentalitas dan perilaku menyimpang itu benar-benar ingin melindungi kehormatan diri? Apakah dia benar-benar mengusahakan pernikahan yang halal? Apakah dia termasuk salah satu dari tiga kelompok yang pasti ditolong Allah, yang salah satunya adalah orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan, ataukah perbuatannya bertentangan dengan perkataannya?

Karena itu, saya katakana sekali lagi, “Mintalah inayah Allah. Jangan lemah, ketahuilah, sedikit uang akan menjadi benyak jika terus dikumpulkan. Dan, sedikit uang yang halal lebih baik daripada uang yang banyak tapi haram dan tidak berkah. Ketahuilah, di balik kesulitan terdapat kemudahan. Giatlah. Buang kemalasan dan kelambanan. Jadilah orang yang bertekad kuat, ulet, dan gigih. Yakinlah bahwa Allah takkan lupa member pahala kepada orang yang berbuat baik.”

November 12, 2012 (N.Mustika.R)
Jakarta, 10:39 am   

November 17, 2012

Share: Untukmu Yang Akan Menikah & Telah Menikah (Kaum Perempuan Lebih Butuh Kepada Pernikahan)



KAUM PEREMPUAN LEBIH BUTUH KEPADA PERNIKAHAN

Pernikahan adalah tuntutan keagamaan dan duniawi baik bagi laki-laki maupun perempuan. Tapi, karena beberapa sebab, ia menjadi lebih urgen bagi perempuan, di antaranya:
Prioritas pemuda muslim adalah bekerja dan menikah, sedangkan prioritas gadis muslimah adalah menikah dan menjadi ibu

Pemuda yang tidak menikah, akan kehilangan banyak ketenangan dan kebahagiaan, sedangkan gadis yang tidak menikah akan kehilangan sebagian besar ketenangan dan kebahagiaannya. Dalam kehidupan sehari-hari, gadis itu akan merasakan luka yang lebih mendalam daripada pemuda yang tidak menikah, baik karena aktivitasnya maupun pandangan masyarakat terhadapnya.
Wanita membutuhkan pria yang melindungi dan member rasa aman. Di masyarakat yang relative lebih aman dan liberal sekalipun, karena wanita takut keluar atau tinggal di dalam rumah sendirian setelah larut malam.

Citra gadis yang tidak menikah lebih mudah tercemar daripada pemuda yang tidak menikah. Kebebasannya dalam beraktivitas, bergerak, bepergian, berekreasi, dan berpakaian pun lebih terbatas.
Seorang guru besar Psikologi pernah mengadakan penelitian tentang mentalitas wanita. Hasilnya, 95% wanita berpikir bahwa dirinya tidak bernilai tanpa kehadiran laki-laki, dan betapapun kerasnya seorang wanita menolak kehadiran laki-laki, pada akhirnya dia akan menyesal.

November 12, 2012
Jakarta, 10:06 am (N.Mustika.R)
Jakarta, 10:43 am

November 16, 2012

Share: Untukmu Yang Akan Menikah & Telah Menikah (Anjuran Islam Agar Kita Menikah)



ANJURAN ISLAM AGAR KITA MENIKAH

Al-Qur’an menganjurkan pernikahan dan menjanjikan kecukupan bagi orang yang menikah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Nikahkan orang-orang yang sendirian di antara kamu dan hamba-hamba sahayamu, laki-laki atau perempuan, yang saleh dan telah pantas menikah. Jika mereka miskin, Allah akan membuat merreka kaya dengan karunia-Nya. Allah itu Mahaluas pemberian-Nya dan Dia Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32)

Ketika menafsirkan ayat ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu berkata, “Taatilah perintah Allah kepadamu untuk menikah, karena Dia pasti memenuhi janji-Nya untuk membuatmu kaya.”
Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, “Allah memerintahkan manusia, baik yang merdeka maupun hamba sahaya, untuk menikah dan menjanjikan kekayaan kepada mereka jika mereka mematuhi perintah-Nya.”

Al-Qurthubi menjelaskan, “Janji ini hanya ditunjukkan kepada orang yang hendak menikah agar mendulang ridha Allah dan melindungi diri dari maksiat.”
Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku heran terhadap orang yang tidak mencari kekayaan lewat pernikahan, padahal Allah telah berfirman, ‘Jika mereka miskin, Allah akan mengayakan mereka dengan karunia-Nya.”

Rasullullah Shallallhu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang menikah dengan dilandasi keyakinan dan pengharapan kepada Allah, pasti ditolong dan diberkahi-Nya” (HR. Ath-Thabarani)
Beliau bersabda, “Ada tiga kelompok manusia yang pasti ditolong Allah; pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan diri, budak yang berusaha mendekatkan diri agar leluasa beribadah, dan mujahid di jalan Allah.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menganggap pernikahan sebagai pembersih dosa dan kesalahan. Beliau bersabda, “Orang yang ingin menjumpai Allah dalam keadaan suci dan tersucikan, hendaklah dia menikah dengan gadis-gadis.” (HR. Ibnu Majah)

Ibrahim bin Muyassarah berkata, “Thawus berkata kepadaku, ‘Menikahlah, kalau tidak, kukatakan kepadamu apa yang telah dikatakan Umar bin Al-Khattab kepada Abu Az-Zawa’id, “Tak ada yang menghalangimu menikah kecuali kelemahan atau kekejian.”

Karena itu, Islam menetapkan, membantu orang yang hendak menikah adalah salah satu kewajiban baitul mal umat Islam

Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu Anhu mengatakan, “Orang yang kemi pekerjakan, dan dia belum menikah, maka kami menikahkannya.” Pada masa kekhalifahannya, beliau membantu orang-orang yang masih membujang untuk menikah. Upaya ini di antaranya dengan cara meringankan mahar, insya Allah, akan saya bahas secara lebih terperinci lagi pada pembahasan berikutnya.

November 6th 2012, 07:22 pm (N.Mustika.R)
Jakarta, 07:03 pm

November 13, 2012

Share: Untukmu Yang Akan Menikah & Telah Menikah (Ungkapan Indah Tentang Pernikahan)


UNGKAPAN INDAH TENTANG PERNIKAHAN

  • Pernikahan yang tidak dibangun di atas pondasi keimanan, akan berakhir dalam keadaan mati
  • Pernikahan adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik bagi suami maupun istri
  • Pernikahan yang dibeli dengan harta, akan dijual ketika harga jualnya lebih menguntungkan
  • Pernikahan demi kecantikan atau ketampanan semata, seperti rumah yang dibeli karena berandanya saja
  • Pernikahan adalah upaya saling melengkapi antara dua orang yang tidak sempurna dan upaya saling memahami antara dua orang yang berakal
  • Pernikahan adalah relasi yang dibangun di atas dasar basa-basi, diplomasi, dan toleransi
  • Pernikahan adalah system rabbani yang paling indah untuk menghimpun laki-laki dengan perempuan dalam satu rumah dan satu ranjang, agar mereka saling berbagi, saling mencintai, memperoleh keturunan, dan silih asah, silih asih, silih asuh dalam meniti kehidupan
  • Pernikahan yang sukses dan bahagia adalah suami istri yang saling memahami, menjalankan perannya dengan baik, dan mendukung peran pasangannya
  • Pernikahan adalah gerbang bagi suami istri menuju kehidupan baru yang penuh kebahagiaan atas kehendak mereka berdua, atau menuju kesengsaraan atas kehendak salah satunya atau kedua-duanya
  • Pernikahan selalu diawali dengan untaian kata-kata yang baik, lalu menjadi langgeng dan kuat juga oleh untaian kata-kata yang baik
  • Pernikahan adalah tempat persemaian emosi-emosi vital agar saling berinteraksi sampai berbuah kebahagiaan. Inti pernikahan adalah ketenangan, bukan hawa nafsu yang menggelora atau hasrat yang menggebu
  • Pernikahan adalah tempat berteduh bagi suami istri. Sebagai tempat berteduh, pernikahan melindungi mereka pada saar suka maupun duka
  • Jangan membangun rumah di atas sebidang tanah, tapi bangunlah di atas pernikahan

November 6th 2012, 06:55 pm (N.Mustika.R)
Jakarta, 141112 06:14 am